Archive for the 'Lingkungan Hidup' Category

Apr 15 2010

Edukasi Mitigasi Bencana di Sekolah Lokasi Rawan Longsor

Published by iqmal under Kampus, Lingkungan Hidup

Saat memasuki musim hujan, terdapat beberapa daerah yang termasuk lokasi rawan tanah longsor. Beberapa lokasi bahkan termasuk kategori langganan bencana alam ini setiap tahun dengan kejadian di titik-titik yang sudah masuk kategori kritis. Dalam beberapa kasus memang bencana ini sudah diprediksikan, tetapi banyak lagi kasus yang tidak disadari bahkan masyarakat yang tinggal di lokasi banyak yang tidak mengetahui potensi bencana ini. Dalam hal ini memang diperlukan beberapa beberapa pihak untuk melakukan upaya mitigasi bencana tanah longsor ini. Pemerintah daerah dengan ditunjang direktorat geologi, direktorat vulkanologi atau dinas pertambangan, serta para peneliti kebencanaalaman harus bersatu padu untuk membantu mengatasi hal ini khususnya secara preventif sebelum terjadinya bencana. Tindakan preventif dapat dilakukan jika ada kesadaran dan pemahaman masyarakat sekitar lokasi rawan bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagi cara dan salah satunya adalah melalui kegiatan edukasi mitigasi bencana alam kepada para siswa di sekolah-sekolah.

www,kompas.com) Continue Reading »

One response so far

Apr 08 2010

Pengelolaan Limbah Keyboard

Menyambung tulisan sebelumnya tentang pengelolaan limbah mouse, maka sebenarnya ide dan pemikiran yang sama dapat diterapkan untuk limbah keyboard, yang merupakan saudara seperjuangan dari mouse saat digunakan untuk menunjang fungsi komputer. Tentu saja fungsi keyboard ini yang berbeda dengan fungsi mouse. Keyboard digunakan pada komputer untuk memberikan perintah tombol-tombol tertentu dan untuk mengetik suatu rangkaian huruf/angka/simbol.

Mirip dengan perkembangan teknologi komputer dan asesorisnya, maka teknologi untuk keyboard pada dasarnya juga berkembang pesat. Hanya saja dari sisi fungsi relatif tidak begitu berbeda, perkembangan menyangkut aspek estetika, bentuk ergonomik, kenyamanan penggunaan, jumlah tuts dan hal-hal kecil lainnya. Termasuk dalam hal ini adalah teknologi keyboard yang tersambungkan dengan kabel ataupun dengan sistem wireless. Ada keyboard yang berukuran besar maupun keyboard yang berukuran tipis dan dapat digulung. Ada keyboard yang berwarna standar seperti hitam atau putih, maupun ada keyboard yang dibuat dalam variasi warna tertentu. Dari pilihan ini tentu saja mengakibatkan konsumen akan menginginkan keyboard yang memenuhi selera dan keperluan yang bersangkutan. Pada sisi lain, keyboard seperti halnya mouse juga merupakan asesoris komputer yang harganya relatif murah, sehingga pengadaan keyboard sering diikutkan pada pembelian komputer baru. Langkah ini kadang sebenarnya kurang efisien mengingat usia pakai keyboard itu relatif lama dan biasanya tingkat kerusakan keyboard sangat rendah. Dengan demikian keyboard lama pada dasarnya masih dapat digunakan untuk digunakan pada komputer yang baru. Realitasnya selalu akan muncul keyboard-keyboard yang dibuang dan bersifat sebagai limah. Jumlah yang ada semakin lama akan semakin banyak dan hal ini tentu saja perlu dilakukan pemikiran untuk pengelolaannya.

 Limbah keyboard

Continue Reading »

3 responses so far

Mar 24 2010

Pengelolaan Limbah Mouse Bekas

Penggunaan komputer saat ini sudah bukan lagi merupakan barang mewah. Mengingat aplikasi penggunaannya yang sudah sangat meluas dan dapat bersifat secara fungsional, maka komputer telah digunakan oleh berbagai kalangan mulai dari industri, perkantoran, sekolah termasuk di rumah tangga. Kemajuan teknologi yang sangat pesat dari sisi hardware dan software juga mengakibatkan efek pergantian barang yang sangat cepat. Umur dari komputer termasuk asesorisnya menjadi relatif singkat yang kemudian diperlukan untuk ganti dengan alat dengan spesifikasi yang lebih baru. Selain itu faktor kerusakan dari alat sering juga terjadi dan berakibat diperlukan pergantian alat baru. Hal ini berakibat akan ada alat atau asesoris komputer yang terbuang dan tentu saja hal ini berpotensi sebagai limbah. Dalam banyak kasus, limbah ini sering menjadi suatu permasalahan baik dari aspek lingkungan yang berpotensi untuk pencemaran maupun dari aspek ekonomi untuk pengelolaan dan pemusnahannya.

Strategi pengelolaan mouse ini mestinya dapat dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari produsen, distributor maupun pihak lain seperti masyarakat. Pengelolaan limbah mouse ini dapat dilakukan dengan menggunakan strategi 3R yakni reduce, reuse, dan recycle.

 limbah mouse

Continue Reading »

7 responses so far

Feb 20 2010

Catatan Kecil Permasalahan di Wilayah Daerah Situs Purbakala

Kalau dicermati pada beberapa wilayah di sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya pada area-area di sekitar sunga Bengawan Solo, diketahui ternyata merupakan daerah yang dikenal sebagai situs-situs purbakala. Kalau saat ini yang dikenal adalah daerah Trinil, Ngawi atau daerah Sangiran, Sragen. Selain itu juga menyebar juga ke wilayah di sekitarnya seperti Blora, Pati dan sekitarnya. Pada daerah-daerah itu banyak ditemukan sisa-sisa arkeologis berupa fosil-fosil binatang purba yang beraneka macam, bahkan untuk situs Sangiran terkenal karena temuan fosil manusia purba. Fosil yang ditemukan banyak di antaranya berupa pecahan tulang ataupun sebagian tulang yang utuh, sisa-sisa kerang ataupn artefak peninggalan jaman purba. 

Penemuan fosil ini secara arkeologis dimulai saat penelitian ahli sejarah Belanda di daerah Trinil yang melakukan ekskavasi dan penggalian secara intensif. Walaupun saat ini penggalian juga banyak diteruskan oleh instansi arkeologi atau pun dari kalangan peneliti arkeologi dari berbagai universitas namun masih belum berlangsung secara intensif. Dalam waktu-waktu selanjutnya, penemuan fosil banyak dilakukan secara tidak sengaja oleh masyarakat di sekitar lokasi, khususnya saat mereka mengolah tanah baik untuk keperluan mengolah sawah ataupun untuk menyiapkan pondasi bangunan.

Gerbang museum Trinil

Continue Reading »

2 responses so far

Jan 02 2010

Wudu dengan Air Mengalir Ditinjau dari Perspektif Lingkungan

Published by iqmal under Kehidupan nyata, Lingkungan Hidup

Berwudu adalah merupakan salah satu syarat untuk boleh dan sah dalam mendirikan shalat bagi orang Islam atau beberapa ibadah lainnya. Dalam hal berwudu sendiri juga ditentukan dengan persyaratan tersendiri di antaranya seperti melaksanakan enam perkara wajib dalam hal berwudu, menggunakan air untuk membasuh anggota tubuh tanpa terhalang, dan air yang digunakan hendaknya mengalir mengenai anggota tubuh yang wajib dibasuh. Dalam keadaan tertentu, berwudu tidak harus dengan air tetapi boleh diganti dengan tayamum.

Untuk pengertian air yang mengalir ini masih sering jadi pertanyaan. Berwudu yang benar dianjurkan dengan air yang mengalir dan bukan air diam, kalau air diam minimal 1 kolah. Untuk 1 kolah ini bersifat relatif, karena kolah kamar mandi itu volumenya sangat bervariasi, jadi mungkin perlu diperbaiki batasan ini. Tetapi saya pada artikel ini lebih akan membahas tentang kriteria air yang mengalir ini.

Pengertian air mengalir tentu saja bukan berarti mengalir seperti aliran di sungai, tetapi yang mengalir tidak dengan cara disibak dengan tangan atau diambil dengan menggunakan gayung. Air mengalir dapat berupa air yang memancar dari suatu wadah tandon atau juga dari pipa air yang keluar lewat keran. Untuk bentuk tradisional, tandon ini dapat berupa genthong atau ember yang dilubangi. Genthong yang terbuat dari tanah liat sering juga disebut sebagai padhasan merupakan fasilitas yang banyak dijumpai di berbagai pelosok daerah dan tersedia di rumah-rumah atau di surau kecil. Sarana untuk wudu dengan air mengalir yang paling praktis tentu saja berupa keran dari pipa leiding atau dari pipa tandon air. Orang yang berwudlu tinggal membuka keran dan segera setelah selesai menutup kembali keran. Continue Reading »

14 responses so far

Dec 29 2009

Penggunaan Kayu Bakar pada Warung Makan Top Markotop

Published by iqmal under Kehidupan nyata, Lingkungan Hidup

Bagi penikmat kuliner tradisional Nusantara pasti sering berkunjung ke beberapa tempat penyedia hidangan kuliner pilihan di berbagai wilayah. Saya walaupun tidak terlalu sering berburu tempat makan seperti itu, tetapi punya tempat makan favorit yang rutin untuk dikunjungi, khususnya yang berada di sekitaran wilayah propinsi DIY dan Jawa Tengah. Dari banyak tempat yang pernah dikunjungi ternyata ada beberapa keunikan yang dimiliki oleh tempat-tempat tersebut. Keunikan pertama antara lain adalah tempat dan ruang yang tersedia tidak harus dalam nuansa modern dan bahkan untuk beberapa tempat makan terkesan sangat seadanya dan sederhana untuk dianggap sebagai tempat makan favorit. Keunikan berikutnya adalah fanatisme pemilik dan tukang masak yang ada untuk selalu menggunakan bahan bakar non BBM yakni menggunakan kayu bakar atau arang kayu.

Kayu bakar

Untuk memasak, tentu saja diperlukan bahan bakar supaya dapat mematangkan bahan masakan dan bumbu-bumbu yang dipergunakan. Kecuali tentu saja, kalau hanya menyediakan jenis masakan mentah macam salad sayuran atau rujak mentah. Tetapi untuk kebanyakan masakan, bahan dan bumbu harus diracik, kemudian dimasak dengan cara dipanaskan sampai matang. Untuk itu tentu saja diperlukan bahan bakar dalam jumlah banyak apalagi untuk warung makan yang menyediakan masakan dalam jumlah besar. Dalam hal ini banyak sekali pertimbangan yang dipilih oleh pengelola warung makan ini untuk jenis bahan bakar yang digunakan. Jenis yang ada dapat berupa bahan bakar minyak seperti minyak tanah atau gas, tetapi juga dapat berupa non bbm seperti kayu bakar atau arang kayu. Continue Reading »

One response so far

Dec 12 2009

Dilema Sampah Anak Kost

Published by iqmal under Kehidupan nyata, Lingkungan Hidup

Artikel dimuat di kolom Suara Warga (Suara Merdeka Online)
tanggal 7 Desember 2009
.

Sampah dihasilkan pada hampir setiap aktivitas manusia, tidak terkecuali oleh anak kost macam saya sekarang ini. Dengan pola karakteristik aktivitas harian saya, ternyata sampah yang dihasilkan juga relatif perlu mendapat perhatian. Mulai dari sampah aktivitas kegiatan studi dan lebih banyak lagi dihasilkan dari aktivitas hidup sehari-hari yang terkait dengan makan, sandang dan tempat tinggal, serta hobby.

Pada tulisan ini saya hanya mengulas soal sampah yang dihasilkan anak kost terkait dengan pemenuhan kebutuhan makan sehari-hari. Untuk anak kost ada dua kemungkinan yakni ada yang makan dengan jalan membeli dari tempat makan baik warung, rumah makan atau catering, sebagian kecil lagi ada yang memasak sendiri. Kalau yang memperoleh makanan dari luar ada yang memiliki kebiasaan makan di warung, atau ada yang membeli untuk dibawa pulang. Mungkin ada juga yang aktivitasnya bercampur karena ingin mendapatkan variasi makan yang tidak bersifat rutinitas. Continue Reading »

5 responses so far

Dec 10 2009

Anjuran Mematikan Mesin Bus di Terminal

Published by iqmal under Health & Safety, Lingkungan Hidup

Artikel dimuat di kolom Kompasiana - Harian Kompas Online
tanggal 6 Desember 2009.

Saat menunggu kedatangan bis di terminal bis mungkin di beberapa bagian lokasi terminal akan melihat anjuran simpatik yang ditujukan kepada pengemudi untuk mematikan mesin bis saat di terminal. Saya sangat menyambut baik anjuran yang terpampang di rambu ini.

Ada berbagai manfaat yang diambil dengan pemenuhan anjuran itu. Bagi pengemudi dan pemiliki bis maka dengan mematikan mesin maka diharapkan dapat menghemat bahan bakar minyak yang digunakan. Dengan tidak menyalakan mesin maka jumlah bahan bakar yang dibakar menjadi berkurang maka mestinya efek lebih jauhnya adalah produksi gas hasil pembakaran menjadi berkurang. Gas-gas hasil pembakaran yang bisa saja merupakan polutan karena pembakaran tidak sempurna maka akan ikut dikurangi, sehingga mencegah pencemaran udara di lingkungan terminal. Untuk diketahui banyak sekali orang yang sebagian besar waktunya dilakukan untuk beraktivitas di lingkungan terminal bis. Selain itu langkah ini juga berarti ikut memberi kontribusi dalam hal pengurangan laju pemanasan global.

Akan tetapi kenyataannya mengapa selalu pengemudi tidak mau mematuhi anjuran baik tersebut. Dari pengamatan ternyata memang ada faktor yang menjadi alasan bagi pengemudi bis ini. Continue Reading »

One response so far

Dec 02 2009

Anjuran Mematikan Mesin Saat Lampu Merah

Published by iqmal under Lingkungan Hidup

Kepedulian instansi pemerintah untuk ikut peduli dalam program hemat energi yang ditujukan untuk ikut mengurangi laju pemanasan global patut diacungi jempol. Dalam tingkat pelaksanaan di lapangan banyak hal yang sudah dilakukan dengan berbagai jenis aksi dan program nyata. Namun terkadang hal ini masih perlu dilakukan kajian dari sisi efektivitas langkah tersebut apakah dapat menuai hasil atau tidak. Hal ini sebenarnya cukup relevan jika dikaitkan dengan berbagai porgram serupa lain dimana kegiatan ini membutuhkan perubahan pola kebiasaan dari masyarakat yang biasanya kemudian berakibat program macet dan tidak terlaksana dengan baik.

traffic light dari web yogyaPada tulisan ini saya menyorot langkah yang dibuat oleh otoritas jalan raya berupa anjuran untuk mematikan mesin saat lampu merah. Program ini dibuat untuk menghemat penggunaan bahan bakar yang digunakan pengguna kendaraan bermotor saat kendaraan berhenti karena terkena giliran lampu merah.

Anjuran yang ada adalah berupa pesan untuk mematikan mesin saat lampu merah dan menghidupkan kembali mesin setelah lampu merah tersisa 20 detik. Secara sepintas hal ini cukup baik dan logis untuk diterapkan. Dengan mematikan mesin maka mesin tidak beroperasi dan tentu saja tidak ada bahan bakar yang dibakar untuk menjalankan mesin. Dapat dibayangkan bila jumlah kendaraan yang ada cukup banyak dan tentu saja bahan bakar yang dapat dihemat secara total menjadi banyak. Idealnya seperti itu. Akan tetapi kalau dilihat lebih jauh banyak hal yang menjadi pertanyaan dan perlu dikaji lebih jauh tentang sisi efektivitas anjuran ini. Continue Reading »

3 responses so far

Nov 07 2009

Jangan Menggunakan Kemasan Styrofoam untuk Makanan Panas

Published by iqmal under Health & Safety, Lingkungan Hidup

Artikel dimuat di kolom Suara Warga (Suara Merdeka Online)
tanggal 7 November 2009.

 

Berikut mungkin pengalaman pribadi saya yang perlu dapat diketahui bersama dan untuk dapat menjadi bahan kewaspadaan kita.

Saat tinggal di asrama yang belum ada dapurnya dan di kamar juga tidak boleh memasak, maka semua pemenuhan kebutuhan dalam hal makan harus diatasi dengan jalan membeli jadi. Pada keadaan tertentu, saya lebih suka memilih membeli makanan untuk dibawa dan dimakan di rumah. Kalau dimakan di tempat, dihitung jatuhnya akan lebih mahal karena harus membeli minuman juga.

Makanan yang dipesan disini, ada warung makan yang sudah siap masak atau ada yang harus memasak terlebih dahulu menyesuaikan dengan pesanan. Untuk warung dengan makanan siap saji, pelayan akan membungkus nasi dan lauk sesuai yang dipesan. Untuk warung dengan makanan yang dimasak dahulu, tentu saja pembeli harus menunggu masakan diolah dulu dan setelah siap lalu dikemas. Tentu saja kalau masakan yang ini terasa lebih fresh karena baru saja dimasak dan masih terasa panas. Tetapi justru masalah panas inilah yang ternyata menyebabkan satu permasalahan baru.

Tiap-tiap warung, cara pengemasan makanannya juga berbeda-beda. Kalau di Indonesia, ada yang menggunakan daun pisang atau kertas minyak. Di negara tetangga sini, lebih banyak menggunakan plastik yang ditaruh di atas kertas koran. Untuk makanan yang berkuah, menggunakan kemasan plastik. Namun ada juga yang menggunakan kemasan styrofoam untuk mengemas makanan.

Kemasan styrofoamSeperti diketahui bahwa disini banyak sekali jamuan atau pesta dengan banyak pengunjung. Dalam menjamu tamu tersebut, biasa juga digunakan gelas, piring atau mangkok yang terbuat dari styrofoam. Bahan yang sama juga ada dalam bentuk wadah kotak yang bisa ditutup, sehingga praktis untuk menaruh makanan. Jadi bahan styrofoam ini sangat popular sekali untuk digunakan sehari-hari. Termasuk dalam hal ini, styrofoam juga dipilih oleh beberapa kedai makan sebagai tempat menaruh makanan yang dipesan untuk dibawa pulang. Continue Reading »

7 responses so far

« Prev - Next »