Archive for the 'Etik sosial' Category

Jan 03 2010

Ada Alkohol dalam Minuman Zero Percent Alcohol

Published by iqmal under Etik sosial, Health & Safety

Semua jenis minuman yang mengandung alkohol di dalam agama Islam dikenakan hukum haram bagi orang muslim untuk meminumnya. Minuman beralkohol ini adalah minuman yang diproses dari bahan dasar mengandung gula atau karbohidrat melalui cara fermentasi menggunakan teknik bioteknologi. Alkohol dalam minuman ini terdapat sebagai ethanol dan saat ini di pasaran banyak dijumpai minuman dengan kadar ethanol yang sangat bervariasi. Kita dapat menjumpai minuman dengan kadar alkohol 1 % untuk minuman seperti bir dan juga dapat juga dijumpai minuman dengan kadar alkohol tinggi di atas 30 % berupa minuman vodka. Tentu saja baik minuman dengan kadar alkohol ringan maupun yang tinggi semua diharamkan.

Perbandingan minuman beralkohol

Saat ini dijumpai suatu produk minuman dengan mempromosikan diri sebagai minuman dengan kadar alkohol 0%. Minuman seperti apakah ini ? Benarkah minuman ini termasuk kategori yang tidak diharamkan karena kadarnya 0% ?

Bagi seorang yang kritis hal ini mestinya menjadi pertanyaan karena kalau memang tidak mengandung alkohol mengapa harus ditulis sebagai minuman alkohol 0 %? Continue Reading »

9 responses so far

Dec 27 2009

Menghindari Kentut di Jalan Raya

Published by iqmal under Etik sosial, Health & Safety

Pernahkah anda dikentuti orang yang berada di hadapan anda ? Bagaimanakah perasaan anda? Tentu saja dongkol dan marah mungkin akan muncul di dalam diri anda. Anda akan menganggap bahwa orang yang kentut tersebut tidak tahu diri, tidak sopan, dan tidak beretika.

Kentut adalah proses membuang gas dari dalam tubuh anda. Kentut bisa bervariasi ada yang berbau, ada yang keluarnya disertai suara. Komposisi gas adalah CO2 dan H2S yang merupakan hasil dekomposisi protein dalam lambung yang terakumulasi dalam lambung. Dengan mengetahui ada orang kentut di sekitar anda, baik dari mendengar suaranya atau mencium baunya, maka akan muncul rasa tidak nyaman dan tidak suka terhadap orang penyebab kentut itu.

Cerita di atas adalah sebagai analogi bagi kejadian yang mirip untuk gas buang dari kendaraan orang lain yang mengenai anda. Sekarang kalau anda memperoleh gas dari buangan yang berasal dari kendaraan di depan anda. Gas tersebut berasal dari proses pembakaran bahan bakar dalam mesin. Gas-gas dari knalpot dapat disertai suara, serta bau, bahkan kadang berupa asap yang terlihat mata. Sifat dari gas ini cenderung merugikan, berbau tajam dan tidak enak, menyebabkan pedih di mata, dan membuat sesak pernafasan. Tetapi mengapa perasaan yang anda alami akan berbeda dibandingkan kalau anda mengalami dikentuti orang, padahal prinsipnya hampir sama.

Sekarang setelah anda mengetahui analogi kalau gas dari knalpot itu adalah kentut dari pengendara orang yang di depannya. Mestinya anda dapat protes dengan berbagai cara, menggumam, mengumpat dan yang paling penting adalah pindah dari limpahan efek knalpot tadi. Continue Reading »

3 responses so far

Dec 22 2009

Cerita Emansipasi - Selamat Hari Ibu

Published by iqmal under Etik sosial, Kehidupan nyata

Perempuan boleh dikata sudah tidak boleh dipandang lemah dalam situasi terkini. Mereka memiliki kedudukan yang setara dengan pria dalam banyak hal. Kalau jaman dahulu masih ada yang berpikiran bahwa perempuan ditakdirkan untuk lebih banyak di belakang atau bahkan lebih rendah dari pria maka sekarang ini harus dihilangkan. Banyak sekali prestasi perempuan modern yang patut dicatat dengan tinta emas. Pada tataran biasa di masyarakat umum, lebih banyak lagi prestasi dan jerih payah perempuan yang tidak boleh diabaikan atau dikesampingkan, mulai dari sektor jasa, layanan pendidikan, layanan kesehatan, sektor kewirausahaan dan lain-lain. Untuk tingkat keluarga, bagian dari upaya menopang penghasilan tidak hanya didominasi oleh suami, tetapi isteri juga banyak juga yang berperan dengan memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri.

Terkait dengan pekerjaan perempuan di luar rumah di kalangan menengah ke bawah, maka sudah banyak sekali diulas masalah ini. Saya pernah membaca cerita-cerita perempuan-perempuan yang aktif bekerja untuk ikut menopang penghasilan suatu keluarga. Sebenarnya saat ini cukup banyak pekerjaan yang melekat sebagai pekerjaan umum seorang perempuan. Contoh dalam hal ini adalah sekretaris, jurumasak, pelayan toko, jururawat, dan lain-lain. Meskipun sebenarnya ada juga pria yang bekerja juga dalam sektor itu. Namun kebalikannya adalah ada beberapa jenis pekerjaan yang dianggap umum sebagai suatu pekerjaan seorang pria, tetapi masih jarang dilakukan oleh perempuan. Continue Reading »

One response so far

Dec 05 2009

Pengembalian Uang Kecil dengan Diganti Permen

Published by iqmal under Etik sosial, Kehidupan nyata

Artikel dimuat di kolom Kompasiana - Harian Kompas Online
tanggal 5 Desember 2009.

Salah satu kekhawatiran dokter gigi di Indonesia adalah banyak orang di masa kini karena giginya rusak karena sering mengkonsumsi permen. Darimana kebiasaan ini muncul, ternyata adalah karena banyak orang sering mengunyah permen yang sebenarnya dia tidak ingin beli, tetapi terpaksa dapat karena memperoleh sebagai pengganti uang kembalian recehan setiap kali belanja di supermarket. Mungkin itu pengantar ringan untuk artikel yang membahas tentang mudahnya pihak kasir memberikan permen sebagai pengganti uang receh.

Kasir supermarketBelanja mungkin merupakan jadi aktivitas rutin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belanja barang dapat dilakukan dengan berbagai cara, kalau dulu belanja sering dilakukan di pasar atau toko-toko eceran biasa, tetapi dengan perkembangan waktu, belanja sudah banyak dilakukan di supermarket atau toko-toko besar. Pola pergeseran tempat lokasi belanja ini ternyata juga menimbulkan perbedaan budaya juga. Salah satunya adalah soal harga, yakni situasi harga di pasar yang relatif fleksibel dan berlangsung lebih interaktif dan sangat berbeda dengan status harga di supermarket dimana harga sudah fix tertera di label. Bahkan orang yang belanja di pasar kadang dapat menawar, kalau di supermarket pembeli hanya bisa berharap dari adanya diskoun yang tertera pada saat akan membeli.

Ada kondisi tertentu dimana saat pembeli membayar barang belanjaannya kemudian membayar dengan uang lebih. Konsekuensinya adalah penjual harus mengembalikan sisa uang yang ada. Permasalahannya adalah tidak selalu penjual atau kasir di supermarket memiliki uang receh untuk pengembalian. Dalam hal ini tentu saja penjual harus memiliki kewajiban untuk mengupayakan uang kembalian tersebut sehingga transaksi jual beli sah. Continue Reading »

5 responses so far

Nov 30 2009

Pelanggaran Lalu Lintas yang ‘Agaknya’ Diijinkan

Published by iqmal under Etik sosial, Kehidupan nyata

Tugas polisi lalu lintas mestinya akan lebih mudah jika kedisiplinan akan peraturan lalu lintas dapat ditegakkan oleh segenap pengguna jalan raya. Akan tetapi menurut pengamatan saya secara subyektif, saat ini terjadi “dekadensi” terhadap kepatuhan akan peraturan lalu lintas oleh masyarakat pengguna jalan. Polisi lalu lintas sebagai aparat penegakan hukum mestinya berusaha keras secara preventif untuk selalu mengingatkan masyarakat untuk mematuhi peraturan dan etika di jalan. Akan tetapi dalam kebanyakan kasus, polisi malah cenderung lebih berfungsi sebagai aparat penindak pelanggaran, yang dalam beberapa kasus bahkan dijadikan sarana untuk kegiatan pelanggaran hukum lainnya berupa pembayaran tilang terhadap oknum.

Ketika polisi secara kelembagaan sedang disorot karena pengakuan salah seorang oknum petingginya yang mengaku sebagai buaya. Ditambah pengakuan melalui status jejaring sosial facebook dari salah satu oknum polisi brimob yang menuliskan bahwa “Polisi itu tidak membutuhkan masyarakat, masyarakat yang membutuhkan polisi”, maka pengakuan itu seolah-olah melegitiminasi instansi tersebut dengan ibarat buaya betulan dengan sosok yang sangat arogan. Meskipun itu hanya pengakuan sepihak oleh oknum-oknum yang mungkin emosional dan kurang berpikir panjang, akan tetapi hal itu akan menjadi stigma di mata masyarakat. Walau hal ini sudah dibantah dan secara resmi Kapolri sudah minta maaf karena pernyataan kurang berbobot dari sebagian oknumnya ini maka ke depannya hal ini harus dibuktikan secara terus menerus. Polisi memiliki moto sebagai pengayom masyarakat, maka implementasi inilah yang harus terus dijaga dan dilaksanakan. Termasuk dalam hal ini mestinya juga dijaga oleh polisi lalu lintas yang merupakan bagian dari POLRI. Mereka mestinya juga hendaknya dapat menjadi pengayom masyarakat, bertugas untuk melayani aktivitas masyarakat dalam kaitannya dengan lalu lintas di jalan raya, mulai dari pemberian lisensi berkendara, menjaga ketertiban lalu lintas, menindak pelanggaran lalu lintas dan aktivitas lain seputar lalu lintas.

Dalam aktivitas ketertiban lalu lintas, aturan dan larangan yang harus ditaati oleh pengguna jalan sudah dibuat dan dirumuskan. Polisi lalu lintas bertugas untuk selalu menjaga agar masyarakat menaati aturan yang ada. Dengan ketaatan pada aturan tersebut maka secara otomatis lalu lintas akan lancar. Tugas polisi mestinya ditekankan lebih secara preventif. Akan tetapi dalam kenyataannya terdapat beberapa kasus pelanggaran aturan lalu lintas yang justru dibiarkan oleh polisi. Mungkin saja pelanggaran ini dibiarkan dengan asumsi yang penting adalah lalu lintas dapat mengalir lancar. Pada bagian berikut saya coba menuliskan beberapa pengamatan saya tentang hal ini. Continue Reading »

2 responses so far

Nov 11 2009

Janganlah Mau Membayar Satu Tabung Gas

Published by iqmal under Etik sosial, Kehidupan nyata

Artikel dimuat di kolom Suara Warga (Suara Merdeka Online)
tanggal 10 November 2009.

Kalau dilihat dari judul tulisan tersebut di atas, mungkin pembaca mengira tulisan ini memprovokasi supaya anti dengan gerakan konversi minyak tanah dengan gas elpiji. Padahal justru dengan tulisan ini sebenarnya berharap orang agar lebih bijakasana dalam menggunakan bahan bakar elpiji ini.

Pemerintah sudah bertekad melakukan kebijakan sektor energi bagi masyarakat berupa konversi minyak tanah untuk dialihkan dengan penggunaan gas elpiji. Hal ini karena beban subsidi pemerintah untuk minyak tanah relatif cukup besar dan perlu dikurangi. Kebijakan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penyediaan gas elpiji kemasan 3 kg untuk melengkapi kemasan elpiji sebelumnya yang tersedia dalam ukuran 12 kg untuk konsumsi rumah tangga dan 50 kg untuk industri. Setelah adanya kebijakan konversi gas elpiji ini, kalangan rumah tangga dan berasal dari golongan tidak mampu mendapatkan bantuan berupa tabung gas, kemudian semakin banyak pihak yang mulai terbiasa dengan menggunakan gas ini. Pertamina sebagai pelaksana tunggal (kalau tidak boleh disebut pemiliki monopoli) pengelolaan dan distribusi gas elpiji ini, pada akhirnya secara bertahap terus menaikkan harga jual gas elpiji ini. Masyarakat sebagai konsumen inilah yang akhirnya mau tidak mau harus menyesuaikan dengan kebijakan harga yang ditetapkan produsen tunggal ini. Cara paling baik sebagai konsumen tentu saja adalah sedapat mungkin berhemat di dalam mengkonsumsi gas elpiji sebagai bahan bakar di rumah tangga mereka masing-masing.

Tips hemat menggunakan gas elpiji untuk bahan bakar di rumah sudah banyak diulas di berbagai sumber baik di surat kabar cetak maupun elektronik. Beberapa tips hemat elpiji tersebut antara lain adalah :

  • Mengatur nyala api sesuai keperluan, jadi jangan sampai terlalu besar sehingga nyala api melewati wadah yang sedang dipanasi.
  • Usahakan untuk selalu mengatur klep udara sehingga nyala api selalu berwarna biru.
  • Cek apakah ada bau tajam yang muncul pada saat kompor tidak digunakan, bau ini mengindikasikan adanya kebocoran gas.

Sebenarnya ada satu tips lagi menghemat gas elpiji ini. Tips tersebut adalah setiap membeli gas, jangan bilang mau beli satu tabung gas, tapi bilang mau beli tiga koilo atau dua belas kilo gas elpiji. Mengapa demikian ? Simak saja penjelasan berikut. Continue Reading »

3 responses so far

Sep 29 2009

Rambu kecepatan di jalan yang benar

Published by iqmal under Etik sosial, Health & Safety, Kampus

speed 120Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalan raya, sering terjadi karena faktor ketidakdisiplinan pengguna jalan. Salah satu bentuk ketidakdisiplinan ini antara lain adalah karena pematuhan batasan kecepatan kendaraan di jalan raya. Saat ini dengan didukung teknologi otomotif yang semakin maju maka tenaga yang dihasilkan mesin semakin kuat sehingga dapat membuat laju kendaraan semakin cepat. Pengendara akan dimanjakan dan terpacu untuk meningkatkan laju kendaraan secepat mungkin untuk mendukung mobilitasnya, tanpa mengindahkan pengguna jalan yang lain. Di sisi lain, fasilitas ruas jalan yang cenderung konstan akan tetapi jumlah pengguna semakin banyak. Akibatnya kenyamanan dalam berkendara akan semakin berkurang. Pihak pengelola jalan raya dalam hal ini menerapkan upaya untuk membatasi kecepatan kendaraan pengguna, antara lain adalah pembuatan polisi tidur dan peraturan pembatasan kecepatan berkendara di jalan raya.

Teknis pembatasan kecepatan berkendara ini diatur dengan menggunakan rambu-rambu lalu lintas pembatasan. Kecepatan di jalan raya dalam kota biasa diatur maksimal 40 km/jam atau mungkin di luar kota pada batasan maksimal 60 km/jam. Mungkin kalau pada jalan bebas hambat, lebih tinggi lagi menjadi 80 km/jam. Aturan tak tertulisnya adalah, batas kecepatan tersebut boleh dilanggar maksimal 10 km/jam. Untuk angkutan berat dan angkutan umum, biasanya batas kecepatan yang diperbolehkan lebih rendah daripada batasan tersebut. Continue Reading »

10 responses so far

Aug 21 2009

Bersihkan Jalan Raya dari Pelaku Bisnis Jalanan

Published by iqmal under Etik sosial

pengemis jalanan

Fenomena berulang akan terjadi di saat-saat bulan Ramadhon, yakni para profesi “pelaku bisnis di jalan raya” yang beroperasi akan menjadi meningkat relatif dibandingkan hari-hari yang lain. Para profesi ini meliputi peminta-minta, pengamen jalanan dan pengasong. Yang hendaknya paling menjadi perhatian adalah para peminta-minta atau sering dikenal sebagai pengemis jalanan. Mereka banyak yang berasal dari orang-orang yang sudah tidak tahu lagi harus bekerja apa sehingga memilih jalan pintas dengan mengharapkan rejeki secara mudah dari orang lain yang mau berbagi. Saat ini para peminta tidak lagi didominasi oleh orang yang memiliki keterbatasan, baik keterbatasan kemampuan maupun keterbatasan fisik tubuh. Seringkali ada oknum peminta-minta yang memanfaatkan bantuan anak kecil atau bahkan bayi untuk lebih mendramatisir penampilan sehingga akan lebih dikasihani. Bahkan jika perlu bayi tersebut harus disewa. Ada juga anak-anak remaja yang didorong pihak lain atau atas keinginan sendiri untuk terjun ke jalan raya sebagai peminta-minta. Yang lebih parah lagi adalah tingkah oknum yang mengorganisir beberapa kelompok orang agar menjadi pengemis secara lebih ‘profesional’. Para pelaku jalanan ini akan berharap mendapatkan uang dari sedekah para pengguna jalan yang lebih banyak lagi pada waktu di bulan puasa ini.

Apabila dicermati, jalan adalah merupakan jalur dan sarana transportasi umum. Simpang jalan dengan traffic light baik perempatan maupun pertigaan merupakan bagian jalan untuk memudahkan kelancaran arus pengguna jalan. Apabila ada pihak-pihak yang memanfaatkan keberadaan jalan untuk kepentingan lain dan dapat mengganggu pengguna jalan, mestinya hal ini tidak diperkenankan. Termasuk dalam bagian jalan adalah trotoar yang difungsikan untuk lalu lintas pejalan kaki. Jadi kalau ada orang yang memanfaatkan jalan dan trotoar misal untuk berjualan, tentu saja akan melanggar peraturan. Dalam hal ini polisi mestinya mengatur dan melarang mereka untuk beraktivitas. Dari sisi pelaku, kadang dimunculkan isu akan keadilan dan kemanusiaan. Kalau sudah berhadapan dengan hal terakhir ini akan susah untuk diargumentasi secara nalar. Cara yang paling mungkin adalah dengan menganjurkan pada pihak kedua. Ada penjual selalu ada pembeli, ada peminta selalu ada pemberi. Para pembeli dan pemberi inilah para pengguna lalu lintas itu sendiri. Jika para pengguna lalu lintas ini tahu bahwa sudah bukan tempatnya lagi sarana jalan raya, trotoar atau simpang jalan digunakan untuk kegiatan berjual beli atau bersedekah, maka diharapkan jumlah pelaku aktivitas jalanan ini akan berkurang atau bahkan akan hilang. Continue Reading »

21 responses so far

Jul 29 2009

Peribahasa Orang Kimia

Published by iqmal under Etik sosial, Kampus, Karya Ilmiah

Untuk memberikan suatu kiasan terhadap suatu kegiatan atau fenomena biasa digunakan frase yang lebih dikenal sebagai peribahasa. Bagi bangsa Indonesia, penggunaan peribahasa cukup dikenal menyangkut banyak hal. Peribahasa dapat digunakan untuk memberikan komentar, menyindir, ataupun untuk tujuan mendidik. Dalam tulisan ini tentu saja tidak akan membuat list peribahasa secara umum hanya mencoba menulis kembali peribahasa dalam format yang berbeda.
Sebagai orang kimia, saya tertarik juga menyusun peribahasa yang sudah dahulu dikenal orang, tetapi dengan menggunakan format frase lain yang menggunakan istilah-istilah kimia. Berikut mungkin dapat digunakan sebagai contoh :

  • Ada sukrosa ada semut (Ada gula ada semut)

sucrose 

 Semut dan gula dari www.boltonmuseums.org.uk

  • Ascorbic acid di gunung, NaCl di laut, bertemu juga di dalam belangga (Asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga)

ascorbic acid   NaCl

Continue Reading »

38 responses so far

Apr 09 2009

Akhirnya Memilih juga……

Published by iqmal under Etik sosial, Kehidupan nyata

Pemilu 2009 - surat pengantar

Pengalaman mengikuti pemilu 2009 ini, agak berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Pulang dari lab malam tanggal 8 April, saya dikabari teman asrama bahwa ada surat pemilihan. Karena sudah agak malam dan kebetulan agak letih ya surat saya lihat saja. Pemilihan kan harusnya tanggal 8 April, jadi ikutan pemilih-pemilih yang di Indonesia untuk mencoblos pada tanggal 9 April saja. Jadi acara malam itu ya tetap acara rutin, makan malam yang beli di warung saat pulang, mandi kilat (ini memang tidak terbalik, jadi makan dulu baru mandi), tiduran yang terus kebablasan tidur, niatnya sih mau nonton Barcelona lawan Munchen.

Pagi (acara nonton bola terlewat karena kebablasan tidur), biasa bikin teh pahit, acara rutin di kamar mandi, terus baru ingat surat pemilihan tadi. Habis itu baru teringat surat suara tadi. Wooo…. setelah dibuka membayangkan suasana TPS di dekat perumahan saat pemilihan yang dulu-dulu. Saya disini hanya memilih DPR pusat untuk daerah pemilihan Jakarta II saja jadi hanya dapat 1 lembar saja. Begitu surat suara terhampar, malah bingung. Baca petunjuknya sebentar, mengamati banyak banget namanya yang terpampang di sana. Bayangkan kalau pemilihannya yang di bilik suara sana ya ? Continue Reading »

10 responses so far

« Prev - Next »