Jan 19 2010

Aspek K3 pada Proses Pengurasan Sumur

Published by iqmal at 11:57 am under Health & Safety

Musibah yang terjadi pada saat orang melakukan penggalian atau pengurasan sumur sudah sering diberitakan di berbagai wilayah tanah air. Dari berbagai berita tersebut disebutkan sering terjadi peristiwa fatal yang berujung pada kematian pada saat orang membuat atau menguras sumur. Bahkan yang tragis sering juga berakibat kejadian dengan korban lebih dari satu orang. Kejadian seperti ini nyaris sering terulang setiap tahunnya. Mungkinkah pengetahuan dan keterampilan perlu ditingkatkan bagi para pelaku tukang gali sumur ini sehingga kejadian yang sama dapat dihindari. Tentu saja mestinya mereka dapat belajar tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini berdasarkan pengalaman selama ini. Akan tetapi selalu akan ada orang baru atau bahkan hanya orang biasa saja yang terlibat dengan kegiatan penggalian atau pengurasan sumur.

Korban yang terjadi pada kecelakaan kerja saat menggali atau menguras sumur ini sangat mungkin terjadi karena pertolongan yang lambat. Hal ini dapat terjadi karena kondisi liang sumur yang sempit. Liang sumur umumnya berupa lubang vertikal ke dalam dengan ukuran 80 cm atau 1 meter, bahkan di perkotaan ada juga sumur yang dibuat dengan diamter lubang hanya 60 cm saja. Kedalaman sumur juga bervariasi juga tergantung dari kedalaman air tanah yang ada di wilayah itu. Terkadang hanya dengan kedalaman 6-7 meter saja sudah ada air yang keluar, tetapi banyak juga sumur dengan kedalaman sampai 12-15 meter untuk dapat memperoleh air. Kalau sudah terjadi sesuatu kejadian pada orang di dalam lubang sumur itu maka tentu saja diperlukan cara khusus untuk menolong korban dan membawa ke permukaan tanah.

Penyebab kematian yang diduga menjadi sumbernya tentu adalah terjatuh ke dalam lubang sumur karena suatu sebab dan juga karena korban tenggelam. Walaupun relatif jumlah air dalam sumur sedikit tetapi kejadian korban tenggelam sering juga terjadi. Pada kejadian seperti ini hampir selalu terjadi adalah upaya pertolongan yang selalu terkendala dan memerlukan waktu lebih lama. Kondisi lubang sumur yang sempit menyulitkan lebih dari satu orang untuk masuk secara bersamaan, selain dengan menggunakan alat bantu seperti tali atau tangga.

 Lubang sumur

Apabila dilihat lebih jauh lagi, korban pertama yang mengalami permasalahan dalam sumur umumnya karena mengalami sesak pernafasan. Kondisi ini terjadi karena memang udara segar dalam lubang sumur yang sempit. Tetapi dalam banyak kasus, penyebab kematian lebih banyak karena keracunan gas yang ada di dalam lubang sumur, sehingga korban sama sekali tidak dapat memperoleh udara segar untuk keperluan bernafas ini.

Faktor keracunan gas ini dapat terjadi karena dua faktor. Faktor pertama adalah karena udara dalam sumur sangat minim secara alami, mungkin karena di dalamnya terdapat sumber alam atau gas hasil dekomposisi bahan organik dari tanah di sekitar sumur. Biasanya hal ini terjadi untuk daerah yang kaya akan sumber gas alam atau juga karena tanah di situ sebelumnya merupakan daerah bekas timbunan sampah. Faktor pertama ini merupakan gejala alam yang mestinya harus dikenali oleh pelaku yang akan masuk ke dalam sumur. Faktor yang lain adalah adanya gas yang dihasilkan oleh mesin pompa penyedot yang sengaja dimasukkan ke dalam sumur saat proses pengurasan atau penyuntikan sumur. Buangan gas tidak diarahkan ke luar tetapi berada di dalam lubang sumur. Faktor kedua ini terjadi karena kesalahan si pelaku sendiri yang mengabaikan aspek K3.

Proses kematian yang terjadi karena sesak nafas ini sering juga disebut sebagai keracunan gas. Paru-paru yang dalam proses bernafas seharusnya memperoleh pasokan oksigen (O2) tetapi akan menyerap gas lain dan yang paling berbahaya adalah amonia atau karbon monoksida (CO). Amonia atau metana dapat berada dalam lubang sumur sebagai gas alam yang mungkin terjadi karena terjadinya dekomposisi alami dari dalam tanah. Gas CO muncul sebagai salah satu dari gas buangan mesin pompa air akibat pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna. Apabila mesin pompa air dimasukkan dan diaktifkan di dalam lubang sumur, tentu saja akan otomatis akan mengurangi jumlah udara segar dalam sumur untuk proses pembakaran itu. Pada waktu bersamaan hasil pembakaran akan menghasilkan gas buangan seperti CO2, gas hidrokarbon dan terutama CO, dan akibatnya adalah gas-gas inilah yang akan terhirup oleh orang yang ada di dalam lubang sumur. CO akan masuk dalam sistem pernafasan dan terikat dalam darah dalam paru-paru mengakibatkan orang lemas. Setelah lemas mungkin akan terjatuh dalam sumur dan berlanjut dengan kematian, jika tidak segera memperoleh pertolongan.

Terkait dengan situasi kejadian berupa lubang sumur yang sempit dan memiliki kedalaman tertentu, maka kejadian sering berakibat lebih lanjut dengan meminta korban tambahan. Kematian yang terjadi secara beruntun dengan memakan lebih dari satu orang korban tersebut adalah karena upaya pertolongan korban pertama yang dilakukan karena sembrono. Hal ini terjadi karena orang melihat korban pertama terjatuh maka dia akan muncul rasa panik dan reflek untuk segera memberikan pertolongan tanpa berpikir panjang. Sementara gas di dalam lubang sumur masih ada dan belum memungkinkan orang untuk bernafas secara normal. Situasi yang terjadi tentu saja si penolong juga akan mengalami kondisi yang sama dan kesulitan bernafas. Jika terus berturut-turut mungkin saja dapat sampai 2, 3 atau 4 orang yang ikut jadi korban. Untuk itu pihak yang berada yang di atas lubang sumur harus waspada jika mengalami kejadian seperti ini sebelum melakukan langkah pertolongan yang tepat untuk menolong korban pertama yang berada di dalam lubang sumur.

Langkah pertolongan yang mungkin dapat dilakukan antara lain adalah melalui langkah-langkah berikut :

  • Semprotkan udara ke dalam sumur sehingga mengusir gas dari dalam lubang. Jika kesulitan untuk mencari udara dari pompa, semprotkan air dalam jumlah mencukupi ke dalam lubang sumur dalam bentuk spray. Langkah ini cukup membantu menambahkan udara segar ke dalam lubang sumur selain mengusir gas-gas beracun keluar dari dalam lubang.
  • Jika ada mesin pompa diesel yang sebelumnya digunakan di dalam sumur, hendaknya diambil terlebih dahulu dan biarkan sumur untuk beberapa waktu atau terus semprotkan air ke dalam lubang sumur.
  • Orang yang menolong dan akan turun ke bawah jangan sendirian. Saat dia turun harus diikat ke tubuhnya dan ada orang yang menjaga. Jika merasa lemas segera minta untuk diangkat ke atas kembali dan menunggu beberapa saat lagi untuk boleh turun ke bawah lagi.
  • Panggil petugas penyelamatan dari dinas kebakaran atau rumah sakit

Orang menggali sumur

Tentu saja teknik pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan perlu dijadikan pengetahuan bagi orang yang sering melakukan kegiatan penggalian atau pengurasan sumur ini. Akan tetapi tindakan preventif untuk menghindari kecelakaan kerja seperti ini jauh lebih penting. Pada bagian berikut diuraikan beberapa upaya preventif untuk menghindari kematian dalam lubang sumur, antara lain adalah :

  • Cek situasi dalam lubang sumur dengan nyala api dengan menggunakan lilin, kalau padam berarti ada gas-gas lain yang bukan oksigen, kalau meledak berarti ada gas metana.
  • Gunakan selang untuk bernafas atau saluran udara yang dipompakan ke dalam lubang sumur
  • Sedapat mungkin jangan memasukkan pompa diesel ke dalam sumur. Jika kondisi sumur yang relatif dalam dan memaksa pompa harus dimasukkan maka sedapat mungkin menyambung saluran gas buangan dari knalpot dengan pipa atau selang sehingga ujung pipa ini dapat di luar lubang sumur.
  • Gunakan tali pengaman dan bekerja jangan sendirian
  • Berdoa sebelum bekerja, karena dengan berdoa dapat membuat suasana tenang dan waspada selama melakukan pekerjaan itu.

Informasi tambahan adalah terkait dengan program perlindungan diri. Pekerjaan menggali atau menguras sumur seperti ini merupakan pekerjaan sekotr informal dan memiliki risiko tinggi. Tentu saja tidak bakal ada program asuransi kerja yang bersedia menanggung program perlindungan diri ini. Jika dalam banyak sektor pekerjaan lain salah satu usulan tindakan preventif dalam mengatasi kecelakaan kerja adalah dengan anjuran untuk mengikuti program asuransi keselamatan kerja. Akan tetapi untuk kasus ini, anjuran ini menjadi tidak mungkin dilaksanakan, kecuali dilakukan terobosan tersendiri.

Demikian mungkin dari tulisan ini dapat dijadikan informasi untuk menumbuhkan kewaspadaan bagi para penggali sumur, selain itu diharapkan bermanfaat untuk dinas terkait dalam melakukan kegiatan pembinaan terhadap para pekerja sektor non formal ini. Selain itu juga ini menjadikan pemahaman baru bagi masyarakat umum yang mungkin memerlukan jasa para penggali sumur di tempat mereka suatu saat, untuk dapat mengingatkan kondisi bahaya dan ikut membantu upaya pertolongan jika terjadi kecelakaan kerja. Pada akhirnya tentu saja diharapkan tidak terjadi lagi pemberitaan kasus kecelakaan kerja saat penggalian sumur dengan makan korban meninggal. Semoga bermanfaat.

Link tambahan :

- Proses menggali sumur. Dapat dilihat di link ini.

 

 

Iqmal Tahir

4 Responses to “Aspek K3 pada Proses Pengurasan Sumur”

  1. joshon 19 Apr 2010 at 9:21 pm

    Kadang memang banyak tukang gali sumur yang sok berani sehingga jadinya kurang perhitungan, nice info….

  2. joshon 19 Apr 2010 at 9:24 pm

    tanya sedikit apa gak ada ya alat untuk mendeteksi gas berbahaya dalam lubang sumur ?? kalau ada kan bisa bermanfaat itu…

  3. Yasmiredjoon 19 Apr 2010 at 10:03 pm

    nanti kayak lmpur sidoarjo

  4. Bernie Milmanon 05 Feb 2012 at 6:23 am

    Keep up the great piece of work, I read few content on this website and I believe that your blog is really interesting and contains sets of superb information.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply