Dec 01 2009

United Colour of Idul Adha 1430H

Published by iqmal at 10:12 am under Kehidupan nyata, Keluarga

Tulisan ini hanya berisikan  catatan pengalaman melaksanakan Idul Adha di negeri orang …. 

Kesempatan belajar di tempat orang, sering kali mengharuskan pada beberapa waktu khusus yang semestinya berkumpul dengan keluarga memaksa harus tidak dilakukan. Saat-saat seperti kesempatan di hari raya Islam atau kesempatan tahun baru, ataupun bahkan di waktu peringatan ulang tahun. Setelah berangkat ke Malaysia sejak november 2008 lalu, saya telah melewati dua kali melaksanakan hari raya Idul Adha dan satu kali melaksankan hari raya Idul Fitri di tempat orang ini dan terpisah dengan keluarga yang tetap berkumpul di Indonesia. Di awalnya terpikir untuk mencoba mengalami dan melaksanakan hal yang berbeda kalau dilakukan di negeri orang, namun kemudian rasanya lebih enak kalau berkumpul dengan keluarga dekat saja. Saya sebenarnya juga pernah sekali melaksanakan kesempatan hari raya Idul Adha, bahkan bukan di negara muslim, yang kemudian memberikan kesan dan pengalaman yang jauh berbeda. Ke depan mungkin jika kesempatan memungkinkan, akan diusahakan untuk terus selalu merayakannya tetap bersama keluarga saja.

 Berkurban adalah kewajiban bagi seorang muslim. Kalau biasanya yang rutin adalah dengan memberikan kewajiban kurban ini melalui masjid di dekat rumah (masjid Al-Asel, Kanoman). Dahulu kami biasanya memotong kurban hewan kambing, namun kemudian untuk menyambut inisiatif panitia, disarankan untuk ikut bertujuh dengan shahibul kurban lain untuk digabung dan dibelikan satu ekor sapi. Terkadang kalau ada rejeki berlebih melaksanakan kurban dua nama, tetapi kurban yang satu diberikan di tempat yang lain dan biasanya diberikan di kampung asal di Blater, Purbalingga. Tahun ini pun akhirnya dapat berkurban dua nama, yang satu seperti biasa di masjid di rumah dan yang satu dikirim ke kampung asal bergabung dengan keluarga memotong sapi. Saya tinggal mengirim uang ke tanah air yang kebetulan ada teman pulang (Ilham, terima kasih ya) untuk diberikan pada saudara yang selanjutnya dikumpulkan untuk dibelikan sapi dan dilaksanakan pemotongannya di kampung.

Saya sendiri di Malaysia, kalau tahun 2008 lalu, melaksanakan waktu Idul Adha ini di asrama. Setelah shalat sunnah, pulang ke asrama, setelah itu ya sudah tidak ada acara apa-apa lagi. Tahun 2009 ini berbeda, kebetulan diajak Mokhzani (teman di Unimap) untuk ikut melaksanakan shalat dan kesempatan di rumahnya. Bersama seorang teman lagi yakni Amri yang sama-sama sedang mengambil S3 di sini. Rumah Mokhzani adalah di kampung di Toklah, Tobiar, Pendang, Kedah, sekitar 20 km dari Alor Setar. Kawasan ini merupakan kampung yang khas melayu dan berada di sekitar perkebunan karet yang dikelilingi hamparan sawah padi. Keluarga teman kami ini merupakan keluarga yang ramah dan terbuka bagi orang asing dan bahkan sudah dianggap seperti saudara dekat. Ayahnya yang merupakan pensiunan guru sekolah atau sering dikenal sebagai cik gu, juga merupakan tokoh di kampungnya.

Idul Adha 1430

Kami menginap dan bermalam di Toklah ini setelah tiba menjelang malam. Suasana malam menjelang hari raya Idul Adha ini tidak begitu terasa. Berbeda halnya kalau malam hari raya di Indonesia, dimana banyak dilakukan takbir malam yang dilakukan di masjid-masjid atau bahkan berkeliling kampung. Disini gema takbir ini relatif tak terdengar, atau mungkin karena di kampung, tetapi ternyata setelah malamnya pergi keluar ke kota, suasana juga relatif tidak begitu berbeda. Alasan yang paling mungkin adalah memang karena jumlah penduduknya yang relatif sedikit, sehingga saya yakin kesempatan berkumpul untuk melaksanakan takbir bersama jadi kurang semarak. Akhirnya malam itu tentu saja setelah ngobrol-ngobrol dengan keluarga Mokhzani di rumah dilanjutkan dengan tidur.

Pagi hari setelah bersiap sholat subuh, mandi, beres-beres, kami diminta sarapan dulu. Di meja makan sudah tersedia nasi dan dengan lauk ikan asin, sambal dan pete rebus. Selesai makan sarapan pagi ini tentunya jadi wajib sikat gigi lagi (hehe… walaupun tidak suka pete, tetapi karena tersedia ya akhirnya ikut mencicipi juga, sikat gigi jadinya wajib untuk menghilangkan bau pete di mulut ini) dan ambil wudlu. Akhirnya kami pergi ke surau di kampung naik mobil (eh… kereta ding) padahal jaraknya sebenarnya relatif dekat.

Shalat sunnah Idul Adha ini dilaksanakan di surau kampung yang merupakan bangunan tingkat dua, menyerupai rumah kebanyakan orang melayu. Ternyata ayah Mokhzani adalah takmir surau ini yang kebetulan jadinya saat itu bertindak sebagai pengatur acara dan sekaligus juga sebagai khotib untuk membacakan kutbah hari raya. Pelaksanaan shalat didahului takbir sambil menunggu jemaah berdatangan. Saat jam 8.30 waktu setempat (atau pukul 7.30 wib) acara diawali dengan penjelasan shalat sunnah idul adha 2 rakaat secara detail. Ada saat yang mengharukan yakni saat takmir menyampaikan penjelasan ibadat shalat, sebelumnya disampaikan juga ucapan perkenalan dan selamat datang khusus kepada kami berdua yang dari Indonesia ke kampung Toklah ini. Jadi merasa terharu saat kami berpisah dari keluarga, disini disambut dengan dianggap sebagai saudara sendiri.

 Kutbah shalat Idul Adha.

Acara selanjutnya adalah pelaksanaan shalat sunnah yang diikuti dengan pembacaan kutbah shalat yang standar untuk seluruh negeri. Seperti kutbah untuk shalat jumat, ternyata isi kutbah adalah standar untuk seluruh negeri yang dibuat oleh dewan agama negeri, khotib tinggal membacakan saja naskah kutbah ini. Untuk kutbah sholat Idul Adha saat itu kemudian disambung dengan kutbah lokal yang dibacakan dari buku kutbah bertuliskan dengan menggunakan aksara jawi atau aksara arab gundul bertuliskan bahasa melayu. Selepas shalat para jemaah bersalam-salaman dan selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.

Yang menarik, para jemaah pria mengenakan baju khas melayu sini berupa baju dengan aneka warna tetapi polos tidak ada motifnya. Para sesepuh biasanya menggunakan kain sarung, tetapi juga ada yang mengenakan baju dan celana dengan kain sarung yang dikenakan untuk membalut daerah pinggang sampai paha. Untuk lelaki tidak selalu harus warna standar atau warna muda, tetapi warna-warna yang mencolok pun ada. Jadinya terlihat meriah dan relatif beraneka warna. Hal inilah yang membuat saya berpikir untuk menuliskan judul di atas.

Setelah selesai acara shalat kami pulang ke rumah, mengobrol dan minum teh. Selanjutnya bersiap ikut menonton dan membantu penyembelihan hewan kurban. Hari pertama hanya ada 1 ekor lembu, mungkin karena hari jumat, waktunya pendek. Lembu dipotong dengan didoakan dengan niat untuk kurban dari tujuh shahibul kurban. Seperti biasa, saya itu paling takut untuk ikut menonton momen penyembelihan hewan ini, di sinipun saya berdiri saja dari jauh dan tidak mengarahkan mata pada kejadian penyembelihan. Sapi diikat keempat kaki dan ditalikan ke pohon kelapa, dipegang oleh beberapa laki-laki dengan kuat. Setelah dibacakan niat dan didoakan sebagai kurban, maka leher sapi disembelih dan darah mengucur, kemudian dikuliti dan daging dipisahkan dari tulang. Daging dikerat berukuran kecil untuk dibagi rata 7. Bagian tulang iga, tulang belakang, bagian tulang kaki, termasuk jerohan isi perut juga dibagi 7. Para shahibul kurban kemudian mengambil bagian masing-masing untuk dibagikan kepada golongan yang berhak dan juga untuk dimakan pihak shahibul kurban. Disini tidak dilakukan pembagian oleh panitia atau petugas hewan kurban.

 Hewan kurban

Pelaksanaan kurban ini dilakukan di tepi kampung di halaman yang luas, jadi hewan darah juga dibiarkan begitu saja tidak ditimbun. Kalau di tempat saya, biasanya digunakan lubang yang digali sehingga darah yang mengucur masuk ke lubang dan ditimbun kembali untuk mencegah lalat atau bau yang tidak sedap.

Setelah penyembelihan kulit juga dibiarkan tidak terurus, padahal sebenarnya kulit ini bernilai ekonomis juga untuk dijual. Untuk perbandingan kembali, kalau di masjid di Yogya, kulit ini sebelumnya sudah dinegosiasi dengan tukang yang menyembelih untuk dibeli mereka dan ditukar dengan daging sapi. Daging ini dibawa mereka saat datang menyembelih, sehingga oleh ibu-ibu dapat langsung dimasak untuk menu makan siang para warga yang datang pada acara penyembelihan.

Saat penyembelihan hewan kurban ini terlihat partisipasi warga muda dan kalangan remaja relatif kurang, mungkin karena memang jumlah warganya relatif sedikit. Tetapi sebenarnya mereka ada dan tampak hanya menonton saja sambil duduk di motor mereka.

Untuk kepala sapi, disini ternyata tidak ada yang berminat. Jadi saat acara selesai ternyata masih tertinggal, akhirnya oleh sesepuh ditawarkan untuk disedekahkan pada Mokhzani untuk dibawa pulang. Jadinya setelah pulang masih ada acara tambahan yakni mengurus bagian kepala sapi ini. Bagian pengupasan kulit kepala relatif lebih sulit daripada mengupas kulit dari daging di bagian tubuh atau paha kaki. Setelah itu lidah dan cingur sapi dipotong. Wah jadi ingat masakan semur lidah dan rujak cingur nih. Lebih susah lagi adalah acara mengambil otak sapi, tulang tengkorak harus dibuka atau dipecah. Karena di tempat Mokhzani barus saja dilakukan pembangunan rumah, ternyata ada beberapa perkakas yang bisa digunakan, yakni dengan pemotong gerinda listrik. Hehe… baru kali ini lihat pengunaan gerinda untuk memecah tengkorak sapi.

 Kepala sapi hewan kurban.

Acara hari pertama Idul Adha ini selanjutnya adalah pulang ke rumah, diteruskan acara istirahat, mandi lagi untuk membersihkan tubuh dari keringat dan percikan darah. Siangnya dilanjutkan dengan pergi ke masjid besar di kampung Tobiar untuk melaksanakan shalat Jumat. Hari raya Idul Adha tahun ini memang pas jatuh di hari Jumat sehingga beruntunglah para pelaksana ibadah haji di tanah suci Mekah tahun ini. Dari masjid kemudian kami pulang, makan dan tidur lagi. Malamnya, kami pergi ke Pendang untuk sekedar belanja beberapa keperluan kecil dan mengisi minyak kereta dan pulangnya tidur lagi. Jadi sudah kayak lagunya mbah Surip, pokoknya bangun terus tidur, bangun lagi sambung tidur lagi…

Hari kedua, pagi setelah berbenah, sarapan pagi, ngobrol-ngobrol, kami pergi untuk ikut meyaksikan dan membantu penyembelihan kurban lagi. Kali ini ada 5 ekor lembu dan tempat pelaksanaannya di ujung kampung di tengah kebun karet. Acara seperti hari pertama, membantu menguliti dan mengirisi daging dari tulang. Mungkin karena sudah berpengalaman pada hari pertama, jadi pelaksanaan lebih cepat. Kebetulan kurban keluarga Mokhzani ikut yang dilaksanakan penyembelihannya hari ini, jadi mereka kali ini membawa bagian daging kurban ke rumah. Setelah membawa daging bagian kurban, dan ternyata hari ini masih dapat bonus berupa kepala sapi sekali lagi. Daging langsung dibagi untuk sedekah dan sebagian masuk pendingin dan dimasak. Beberapa kerabat dan kenalan ada yang datang untuk mendapatkan sedekah kurban ini.

Acara hari itu selanjutnya tentu saja istirahat, mandi, dan tidur lagi. Siang harinya kami makan di tempat kenduri orang yang berkurban di dalam kampung. Masakan adalah sup tulang, daging semur dan kerabu. Kerabu ini mirip sayur kluban dengan bumbu kelapa dan bunga kecombrang, dengan isi perut macam iso, babat, dan lain-lain. Masakan ini dimasak dengan menggunakan kuali besar yang dipanaskan dengan bahan bakar kayu. Mumpung tidak ada yang mengingatkan kholesterol, boleh-boleh saja makan dengan lahap.

Makan daging kurban.

Setelah acara makan, biar tidak bosan kami pergi jalan-jalan ke Kubur Panjang sekitar 4 km dari kamung Toklah. Disini terdapat kuburan yang dikeramatkan di daerah itu. Yang unik adalah panjang 1 cungkup kuburan itu berukuran sampai 6 meter. Keunikan inilah yang menjadikan daerah ini dinamakan kampung Kubur Panjang. Pikiran nakal yang muncul adalah jangan-jangan yang dimakamkan di situ adalah superhero Pangeran Melar yang memiliki tubuh bisa memanjang.

Perjalanan melewati daerah sawah yang subur dimana di Kedah ini memang dikenal sebagai wilayah yang merupakan lumbung padinya Malaysia. Kondisi sawah disini sebenarnya relatif berbeda jika dibandingkan dengan di Indonesia. Pengamatan sekilas menunjukkan bahwa tanaman padi kurang terawat. Hal ini mungkin karena tidak banyak orang yang mau bekerja di sawah. Semua aktivitas banyak dilakukan dengan menggunakan traktor mulai pembajakan sampai pemanenan. Benih cukup ditabur. Tidak ada proses penyiangan rumput.

Saat sore harinya kami berjumpa dengan beberapa sanak famili yang datang, berkenalan dan bercerita banyak hal. Topik obrolan yang biasanya banyak dibahas adalah soal negara masing dan bahasa yang sama tetapi berbeda. Kadang ada beberapa istilah yang lucu jadi bahasan seru di antara obrolan kami.

Saat pulang saya dan Amri dibekali daging cukup banyak. Masing-masing hampir dapat daging banyak sekali. Waduh bingung nih mau diapakan nantinya…

Sore harinya kemudian kami melakukan perjalanan pulang ke Kangar dan diantar Mokhzani. Di Alor Setar, sempat mampir beli durian 1 tumpuk seharga 10 ringgit. Jadi sudah tidak sempat mikir bahaya kholesterol lagi…

Sampai Kangar langsung mampir ke jemputan kenduri di tempat supervisor saya Dr Shafiq. Acaranya tentu saja datang, ngobrol, dan dilanjutkan dengan makan bersama undangan lain yang kebanyakan warga Bangladesh. Menu makanan didominasi dengan masakan khas Asia selatan yang berkari dengan menu daging sapi. Pulang sampai rumah sudah kekenyangan, tidak kuat lagi untuk pesta durian.

Hari ketiga saya di rumah sendiri karena house-mate saya, Wahyu dan Zakaria sedang pulang ke Indonesia. Pagi itu cuma sarapan roti dan nonton teve. Baru mau keluar rumah ternyata ban depan sepeda motor kempes, akhirnya dipompa saja, dilanjut pergi ke klaster karena kedai jam segitu belum buka. Di lab  langsung nengok hasil sintesis polimer untuk ditimbang. Baca email dan berita setelah dua hari tanpa akses internet. Siang ditelpon untuk jemputan ke pemotongan hewan kurban di universitas. Gara-gara terlambat, akhirnya malah sudah tidak kebagian makanan di acara universitas itu. Hehe… akhirnya malah makan di kedai saja.

Setelah itu tentu saja acara berlanjut untuk pulang guna menyelesaikan urusan durian yang perlu ditangani. Tetapi kemudian acara ini berefek membuat perut terasa panas karena kebanyakan makan durian. Hehe… padahal duriannya kecil-kecil lho… (tetapi dasar memang banyak, ya efeknya tetap sama lah). Habis ini diantar ke klaster lagi untuk mengambil motor yang bocor, nambal ban, pulang tidur siang. Sore hari bangun kelaparan, akhirnya dengan malas masak nasi dan membuat sayur lombok ijo favorit. Hanya saja gara-gara agak gimana jadi kurang konsentrasi, ternyata cabe yang digunakan terlalu banyak akibatnya tentu saja hasil masakan menjadi kepedasan, tetapi ternyata malah enak juga sih. Selesai masak bingung lagi, ternyata masih ada daging dalam jumlah besar. Untung sih sudah direbus dengan bawang dan garam, jadi sebagian bisa masuk kulkas eh… peti sejuk. Sore itu juga mengundang Fathi untuk ikut berbagi daging kurban ini, lumayan ada yang ikut membantu menghabiskan. Malamnya tentu saja acara istirahat lagi.

Demikian sekedar catatan pengalaman mengikuti kesempatan merayakan Idul Adha di negeri orang tahun ini. Tetapi tentu saja tetap ada yang kurang…. tidak ada keluarga dekat di sekitarku… hiks….

 

Iqmal Tahir

One Response to “United Colour of Idul Adha 1430H”

  1. Vanda Recordson 05 Feb 2012 at 9:01 am

    Its such as you read my thoughts! You appear to know a lot about this, like you wrote the guide in it or something. I believe that you just can do with some percent to force the message home a little bit, but instead of that, that is great blog. An excellent read. I will certainly be back.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply