Feb 27 2010

Saat Penjahat Harus Jadi Penjahit - Kotak Wasiat

Published by iqmal at 10:56 am under Kehidupan nyata, Keluarga

Jujur saja ternyata saya memiliki banyak kebiasaan jelek yang berakibat merugikan diri sendiri khususnya terkait dengan masalah baju atau celana. Kebiasaan malas mencuci dengan tangan untuk diganti dengan mesin, ternyata sering mengakibatkan ada banyak jahitan di baju atau kaos yang sering lepas. Ada juga kebiasaan yang sering mengakibatkan kancing baju terlepas. Kalau sudah seperti ini tentu saja diperlukan alih profesi dari peran penjahat baju menjadi penjahit baju.

Perkakas benang jahit - Iqmal

Saat mengerjakan urusan jahit menahit ini, baru terasa kalau memiliki kotak wasiat di rumah ternyata sangat menguntungkan. Kotak wasiat (sebut saja demikian) yang saya maksudkan ini adalah suatu kotak yang disiapkan isteri di rumah dan berisikan seperangkat benang jahit berwarna-warni. Di dalamnya juga tersedia gunting kecil dan jarum jahit, serta ada beberapa kancing baju berbagai jenis, warna dan ukuran. Kotak wasiat itu hanya berukuran kecil tidak lebih dari 10 x 10 cm dan tinggi sekitar 8 cm. Kotak ini biasanya ditempatkan dalam rak lemari di dekat meja setrika atau tempat lain yang mudah terlihat.

Sekarang saya berpisah dari rumah, maka pada suatu waktu ternyata harus memerlukan keberadaan kotak wasiat itu. Untuk mengatasi masalah kancing baju yang lepas atau jahitan yang lepas maka untuk mengatasinya diperlukan waktu untuk mengerjakannya. Jadi ingat kalau hal ini terjadi di rumah, maka biasanya tinggal pesan ke ibunya anak-anak kalau kancing baju ini lepas atau jahitan di ujung celana ini jebol, maka biasanya setelah tercuci akan segera tertangani. Hal ini ternyata karena persediaan di kotak wasiat itu cukup lengkap. Kalau diperlukan benang warna tertentu maka biasanya sudah tersedia, paling mungkin kalau warna yang persis betul dengan warna kain tidak ada maka dapat dipilihkan alternatif warna benang yang tidak bertabrakan.

Kembali ke masalah saya sekarang ini, akibat sering dicuci dengan mesin cuci, maka seringkali jahitan di ujung celana atau baju sering lepas. Kalau menuruti kebiasaan lama maka mending baju atau kaos ini dibiarkan begitu saja, nanti pada saat akan pulang ke rumah baru dibawa untuk dijahitkan di rumah. Tapi seringkali pulang tidak membawa bagasi dan ikut menambah beban, maka dirasa tidak efektif, sehingga diputuskan untuk dijahit sendiri saja di sini. Akhirnya terpaksa mencari benang dan jarum sendiri. Dulu sempat dibawakan isteri benang, tapi cuma warna putih saja. Akhirnya teringat dulu saat pindahan, ada teman Sutikno yang sudah selesai dan mewariskan beberapa barang miliknya. Ternyata ada juga peralatan jahit dengan beberapa benang aneka warna. Akhirnya masalah jahit menjahit sambungan atau celana yang berlubang dapat diselesaikan.

Masalah lainnya yang mirip adalah seringkali kancing baju yang lepas. Kebiasaan jelek adalah kalau pulang dari laboratorium sudah lelah, biasanya kancing baju belum lepas semua tetapi sudah dilepas macam melepas kaos tanpa kancing. Akibatnya tentu saja akan ada kancing yang tertarik lepas. Yang sering sih kancing yang lepas ini terlempar dan ketemu saat dicari saat itu juga, tetapi kadangkala kancingnya ingin sembunyi dulu malah kadang tidak ketemu juga setelah dicari beberapa lama.

Kalau sudah ada kancing baju yang lepas dan ternyata tidak ketemu, maka harus diganti dengan kancing cadangan. Pada beberapa baju buatan pabrik, biasanya disertakan kancing cadangan yang disertakan di bagian dalam baju. Jadi tinggal dilepas dan dipasangkan ke tempat kancing yang lepas. Kalau baju yang lama, maka bekas posisi kancing biasanya sudah tertandai, tetapi kalau baju yang masih baru, biasanya harus dipaskan terlebih dahulu. Herannya, baju-baju baru yang buatan pabrik ternyata memiliki frekuensi kancing lebih cepat. Selidik punya selidik, mungkin karena jahitan kancing ini pakai mesin dan tidak ada benang pengunci. Jadi pernah saya coba ada benang di jahitan kancing yang kendor dan saya tarik, ternyata malah bikin langsung lepas semua. Dari pengalaman ini biasanya jahitan benang saya biasanya lebih kuat. Hasil jahitannya untuk kategori ’self evaluation’ ya sudah lumayan, walaupun posisi lubang kancing kalau diperhatikan dengan teliti kadang tidak teratur seperti posisi kancing yang asli.

Kalau kancing tidak ketemu dan tidak ada kancing cadangan, maka inilah jadi masalah lagi. Kalau ada kotak wasiat seperti di rumah, mungkin bisa dicari kancing dengan jenis dan warna yang relatif mirip. Alternatifnya adalah dengan jurus pengorbanan yakni dengan mengunakan kancing yang atas sendiri di bagian dekat kerah. Saya sendiri termasuk jarang sekali mengancingkan untuk biji kancing paling atas ini, kecuali kalau pakai baju lengan panjang saat berdasi. Kadang ada baju lengan panjang yang memiliki dua kancing di sudut kerah depan untuk merapikan kerah sehingga tidak terurai, tetapi seringkali kancing ini walaupun warnanya sama tetapi ukurannya berbeda.

Kalau kancing celana yang biasanya terdapat pada saku belakang kanan untuk menjaga dompet. Tapi sekali lagi ternyata punya kebiasaan jelek juga saat mengambil dompet seringkali tergesa-gesa dan membuat kancing saku terlepas. Yang sering sih biasanya kancing ketemu, karena ukurannya relatif besar. Tetapi pernah juga tidak ketemu, maka untuk mengatasinya dengan jurus pengorbanan juga. Kancing saku belakang kiri kemudian dilepas dan dikorbankan untuk dipindah ke kanan. Saku yang kiri dibiarkan saja tidak berkancing, karena toh juga hampir tidak pernah digunakan.

Kalau memang tingkat kerusakan sudah cukup parah ya baju  dibuang saja. Ada juga kasus yang untuk menjahitnya tidak ada benang atau kancing yang cocok, kalau seperti ini, ya sudah pasrah nunggu pas pulang saja. Di kotak wasiat di rumah mungkin ada kancing dengan warna dan ukuran yang pas.

Untuk jahit-menjahit juga terjadi pada kaos kaki. Walaupun disini relatif jarang pakai sepatu dan kaos kaki, kalau ke lab lebih sering pakai sepatu sandal. Hehe… jangan ditanya soal safety in lab lho ya. Lagi pula disini itu kalau pergi ke banyak ruangan, banyak yang mensyaratkan untuk lepas alas kaki. Terkadang kuku kaki tumbuh panjang dan lupa belum dipotong, hal ini rupanya berakibat dapat membuat kaos kaki mudah berlubang. Untuk mengatasinya tentu saja lubang ini harus dijahit juga untuk menambal. Kalau urusan menjahit menambal lubang kaos kaki sih paling mudah, yang penting rapat.

Terakhir saya jadi berpikir kalau keberadaan kotak wasiat ini dalam suatu rumah kadang ternyata penting juga. Jadi kalau kotak P3K itu harus diwajibkan ada di setiap rumah, maka kotak wasiat yang berisikan benang dan kancing aneka rupa perlu disunnahkan saja.

 

Iqmal Tahir

2 Responses to “Saat Penjahat Harus Jadi Penjahit - Kotak Wasiat”

  1. […] artikel urusan jahit menjahit ini masih berlanjut dengan bagian prosesnya. Yang jelas kebiasaan ini seperti ini merupakan bekal […]

  2. Ariel Nolletteon 05 Feb 2012 at 6:59 am

    I conceive you have noted some very interesting details , regards for the post.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply