Mar 07 2010

Saat Penjahat Harus Jadi Penjahit - part 2

Published by iqmal at 10:57 am under Kehidupan nyata, Keluarga

Ternyata artikel urusan jahit menjahit ini masih berlanjut dengan bagian prosesnya. Yang jelas kebiasaan ini seperti ini merupakan bekal saat kecil. Yang pertama adalah saat sering membantu ibu saat menjahit walaupun sebenarnya hanya untuk bagian-bagian yang kecil dan tidak penting. Yang kedua adalah saat di SD dan SMP ada pelajaran keterampilan karya (PKK), yang salah satu materinya adalah terkait urusan jahit menjahit seperti pembuatan kerajinan tangan dan kruistik atau bagian tentang pengenalan teknik macam-macam tusuk jahitan.

Tusuk jahit dari www.bicaramuslim.com

Kalau dengan ibu dulu sering kali ada beberapa pesan yang ternyata sampai sekarang tetap tersimpan di memori kepala. Salah satunya adalah pesan kalau menjahit itu tidak boleh saat magrib atau malam-malam, hal ini tergolong ”ora ilok”. Sekarang kalau menjahit kancing atau lubang di baju atau celana, karena ada waktu luang ya setelah pulang dari lab saat malam, maka tidak ada kesempatan lain. Jadi kayaknya pesan itu bolehlah sedikit dilanggar. Lagi pula petuah itu mungkin karena soal pencahayaan pada saat itu, kalau sudah malam maka dapat mengganggu kesehatan mata karena pencahayaan dulu mungkin belum senyaman sekarang. Saat ini soal cahaya di malam hari tentunya sudah tidak lagi jadi kendala, karena ada lampu listrik. Apalagi sekarang juga saya amati banyak penjahit profesional yang juga bekerja sampai malam, ada juga pabrik garmen yang bekerja sampai shift malam. Coba kalau petuah ini diikuti maka akan banyak timbul pengangguran baru, walah…..

Untuk urusan membantu ibu menjahit, sebenarnya saya ingat-ingat dulu ternyata hanya berupa bagian-bagian yang tidak penting, seperti disuruh mengambilkan gunting, membantu memasangkan benang ke jarum atau menyobek lubang kain pada kancing. Tetapi ternyata hal ini juga memberikan sedikit keterampilan terkait jahit menjahit ini.

Dulu saat kecil sering diminta ibu untuk memasukkan benang ke jarum. Benang harus dipotong dengan gunting, jangan ditarik pakai tangan karena ujung benang akan tidak beraturan dan susah untuk dimasukkan ke lubang jarum. Ujung benang dibasahi dengan jalan dimasukkan ke mulut, sehingga akan lebih mudah dimasukkan ke lubang jarum. Kalau jarumnya pakai jarum kruistik sih enak, karena lubang jarumnya cukup besar, tapi kan tidak mungkin digunakan untuk menjahit pada kain.

Sebenarnya ada juga alat untuk membantu memasukkan benang. Yakni batang dengan ujung kawat halus yang dibentuk semacam laso tetapi lancip. Ujung laso yang lancip dimasukkan ke lubang jarum, kemudian baru benang dimasukkan secukupnya ke dalam lubang laso ini. Cara ini jauh lebih mudah karena ujung laso dari kawat bersifat kaku. Setelah masuk kawat laso ditarik keluar lagi dan benang ikut tertarik masuk ke lubang jarum. Benang tidak harus dipotong dengan gunting dan juga tidak harus dibasahi dengan ludah.

Menjahit itu ternyata banyak acaranya. Ada petuah lain yang masih saya ingat, untuk menghemat benang, ukur dulu bagian yang akan dijahit, kemudian potong benang kira-kira 2,5 sampai 3 kali kurang bagian yang akan dijahit. Dengan demikian benang tidak akan terlalu pendek atau kurang panjang, tetapi juga kira-kira tidak tersisa cukup banyak. Yang jelas saat dipraktekkan, hal ini tidak berlaku, karena benang ternyata masih sisa banyak. Hehe… ternyata hal ini karena memang jahitan tidak mengikuti kaidah normal, yakni jahitan asal rapat dan jarang-jarang, prinsipnya terjahit rapat tetapi cepat selesai. Hasil jahitannya dapat dibayangkan seperti barisan semut yang berjalan di dinding. Jadi untuk teknik jahitan saya, ukuran benang mestinya cukup 2 sampai 2,5 kali ukuran bagian panjang kain yang mau dijahit.

Acara payah yang lain sewaktu menjahit adalah kehilangan jarum saat mau menjahit dan benang sudah dipotong. Setelah ujung benang masuk mulut, muncul masalah baru, jarumnya yang tadi diletakkan di lantai samping kaki ternyata menguap hilang entah kemana. Ini benar menguap sepertinya karena ternyata dicari dengan teliti tidak ketemu, bahkan harus disapu perlahan tetap tidak ketemu. Karena cuma ada jarum satu itu saja, maka tetap harus dicari. Langkah terakhir adalah dengan menggunakan magnet yang ada di tutup dompet hp, ternyata dapat ketemu juga di sela-sela sambungan keramik. Baru kemudian akhirnya acara jahit menjahit dapat diteruskan.

Saat menjahit sebenarnya teringat pelajaran keterampilan saat SMP. Pernah diajari tentang berbagai macam-macam tusuk menjahit dan penggunaanya. Saya ingat saat itu ada tusuk silang, tusuk lurus, tusuk lain-lain. Tetapi saat praktek ini sudah tidak peduli lagi mau tusuk apa, pokoknya tujuan utama tercapai yakni sambungan kain yang lepas dapat terjahit kembali. Jadi kalau ditanya, jahitannya pakai tusuk apa ? Jawabannya adalah ”Free Style”….

Terakhir yang saya tuliskan di artikel ini, untuk acara jahit menjahit ini memerlukan waktu total lima jam. Tetapi jangan kaget dulu, waktu sepanjang itu habis untuk menjahit sebanyak 2 jam dan yang 3 jam sebenarnya ya untuk nulis dua artikel blog ini….

 

Iqmal Tahir

6 Responses to “Saat Penjahat Harus Jadi Penjahit - part 2”

  1. Elmo Dennieson 05 Feb 2012 at 8:31 am

    I always was concerned in this topic and still am, appreciate it for putting up.

  2. nisaon 04 Aug 2012 at 1:30 am

    waa, istilahnya keren…penjahat jadi penjahit. saya sendiri agak males kalo musti menjahit. tpi sekarang pengen belajar lagi, karena ini termasuk skill yang udah mulai langka di zaman sekarang..cmiiw

  3. iqmalon 04 Aug 2012 at 1:24 pm

    kayaknya sekarang malah mulai tumbuh lho para hobbies menjahit, khususnya meintal benang untuk jadi berbagai macam asesoris….

  4. mama-edoon 17 Aug 2012 at 7:02 am

    waa..memayet juga yaah… bisa berguru nih..hehe

  5. iqmalon 17 Jan 2013 at 2:31 pm

    kalau pasang payet sih bisa, tapi kalau biar jadi cantik yang gak bisa nih….

  6. genaon 04 Dec 2013 at 4:14 am

    Wow, amazing blog layout! How long have you been blogging for?
    you made blogging look easy. The overall look of your website is fantastic, as
    well as the content!

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply