May 27 2010

Pabrik Pupuk di Halaman Rumah

Published by iqmal at 10:00 am under Keluarga, Lingkungan Hidup

Kebun merupakan salah satu bagian rumah yang merupakan halaman di sekitar rumah dengan satu atau beberapa pohon serta tanaman lain yang ada. Jika orang membangun rumah seringkali menyisakan bagian ruang kosong yang digunakan untuk halaman yang multiguna seperti untuk tempat menjemur baju atau untuk tempat kendaraan. Selanjutnya jika halaman masih ada, sesuai naluri, biasanya diperuntukkan untuk halaman taman yang dihias dengan pengisi tanaman hias, kolam atau ornamen lain. Apabila tinggal di wilayah pinggiran jika masih ada tanah kosong lebih luas lagi maka halaman taman ini lebih luas lagi sehingga pengisian lahan ini akan lebih banyak dan bervariasi lagi. Pohon serta tanaman hias tentu saja merupakan salah satu hal yang mesti ada dalam halaman taman atau kebun. Dalam prakteknya pohon dan tanaman ini secara rutin akan menghasilkan rontokan daun yang berupa sampah. Selain itu pada saat-saat tertentu, pohon dan tanaman hias ini juga memerlukan perlakuan rutin seperti pemangkasan atau peremajaan kembali. Kegiatan ini juga akan menghasilkan sampah lagi. Sampah kebun ini sebagian besar berupa daun kering atau ranting bekas pangkasan yang kesemuanya tergolong sampah organik.

Menyapu halaman

Perlakuan apakah yang dapat dilakukan dengan sampah kebun ini ? Banyak orang yang berpikir secara praktis, yakni dengan membuang sampah ini ke tempat sampah bercampur dengan sampah lain-lain untuk diangkut petugas ke TPS. Jika sampahnya terkumpul agak banyak, ada juga orang yang kemudian menumpuknya dan membakarnya sampai habis.

Sebenarnya masih ada cara lain yang lebih bijaksana untuk mengolah sampah kebun ini. Caranya adalah dengan melakukan pengomposan sampah kebun ini. Dengan jalan ini tentunya akan memanfaatkan sampah kebun untuk diolah menjadi bahan yang lebih bermanfaat daripada hanya dibakar atau dibuang begitu saja. Kompos yang dihasilkan akan dapat digunakan sebagai pupuk hijau untuk pemupukan di kebun itu lagi tanpa harus membeli. Langkah karena tidak membakar sampah ini tentu saja dapat membantu upaya menghambat laju pemanasan global. Kalau karena tidak membuang sampah kebun ke TPS maka langkah ini dapat mengurangi beban kapasitas TPS yang terbatas.

Untuk teknis pengolahan sampah kebun menjadi kompos dapat dilakukan dengan berbagai jalan. Tentu saja langkah ini dapat dipilih disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan kemauan dari pemilik kebun. Beberapa alternatif yang mungkin dilakukan adalah :

-          Pengomposan dalam liang tanah

Teknik ini sebenarnya merupakan hal yang sudah umum dilakukan di kampung-kampung jaman dulu. Hampir setiap rumah masih memiliki halaman kosong yang luang. Orang kemudian menggali tanah dalam ukuran sekitar 1 meter x 1 meter dengan kedalaman 1 – 1,5 meter. Sampah yang dihasilkan dari rumah itu kemudian tinggal dimasukkan ke dalam liang ini. Kalau di Jawa Tengah, nama liang ini terkenal dengan sebutan jogangan.

Sampah kebun biasanya disapu dan dikumpulkan untuk kemudian ditimbun ke dalam liang ini. Sampah dari dapur sebenarnya bagus juga untuk dimasukkan ke liang ini, cuma tentu saja harus dipisahkan dari sampah jenis anorganik seperti plastik atau logam. Setelah beberapa waktu, kemudian liang akan penuh. Untuk itu langkah yang umum dilakukan adalah dengan membuat liang yang baru di dekat liang lama ini. Sebagian tanah galian liang baru digunakan untuk menguruk liang lama. Liang baru inilah yang selanjutnya digunakan untuk menampung sampah.

Pada liang lama akan dengan ditutup tanah akan terjadi proses pengomposan bahan organik secara anaerob.  Setelah beberapa bulan sampah daun di dalam liang ini dapat dibongkar dan kompos di dalamnya dapat dijadikan pupuk hijau.

Manfaat adanya liang ini akan dapat membantu terjadinya proses penyerapan air ke dalam tanah. Penyimpanan air ini cukup membantu untuk terjaminnya ketersediaan air di dalam tanah di lokasi itu, apalagi sekarang dengan semakin banyaknya permukaan tanah yang ditutup plesteran semen atau paving block.

Kalau untuk rumah dengan halaman yang cukup luas, maka langkah ini dapat dilakukan dengan mudah. Permasalahannya adalah untuk kebanyakan rumah-rumah sekarang yang memiliki halaman relatif terbatas, maka solusinya adalah mengadopsi teknik jugangan ini dengan jalan diminiaturisasi. Proses miniaturisasi seperti ini lah yang kemudian sekarang dikenal dengan teknik biopori. Penyediaan sampah untuk dikomposkan langsung di tanah sekaligus juga upaya memperbanyak penyerapan air ke dalam tanah. Hanya memang skala biopori lebih kecil jika dibandingkan dengan jugangan. Dan yang jelas jugangan itu hanyalah sisa-sisa kearifan lokal dan tidak cukup sexy kalau digembar-gemborkan untuk ditiru sekarang ini. Terimakasih kepada pihak yang telah merumuskan biopori ini, sehingga sekarang semakin memasyarakat.

-          Pengomposan dalam genthong

Langkah ini juga bisa diterapkan untuk rumah dengan halaman yang relatif terbatas kalau mau dibuat lubang galian. Proses pengomposan sampah kebun dapat dilakukan dengan menggunakan wadah genthong, yang dapat dipilih dari bahan gerabah tanah liat atau pun dengan dari plastik. Hanya saja jumlah sampah yang diolah tentunya lebih kecil daripada kalau menggunakan jugangan, tetapi tidak masalah kalau digunakan untuk kebun di perumahan.

Dari sisi teknisnya, maka genthong disiapkan dengan jalan pembuatan lubang untuk keperluan sirkulasi udara ke bagian dalam sampah. Selanjutnya sampah tinggal dimasukkan saja ke dalam genthong. Jika proses pengomposan ingin cepat terjadi maka sebelumnya dapat dimasukkan kompos atau pupuk kandang atau starter buatan. Proses selanjutnya kompos akan terjadi dengan sendirinya. Perlakuan untuk mempercepat lainnya adalah dengan sering mengaduk dan membolak-balik sampah dalam genthong.

 Materi yang mungkin lebih informatif tersedia juga di blog saya, dalam format pdf yang dapat didownload di link ini.

Kompos yang dihasilkan dari sampah kebun ini memiliki ciri-ciri berupa kompos yang kaya akan unsur nitrogen, sehingga cocok untuk digunakan ditaburkan di permukaan tanah di taman atau dicampurkan sebagai media tanam dalam pot. Kompos ini berupa serpihan kecil dari daun yang hancur karena membusuk, oleh karenanya akan sangat membantu kegemburan apabila dicampurkan dengan tanah.

Pemanfaatan sampah daun untuk dikomposkan di genthong.

Selain manfaat ini, secara tidak langsung anda akan memperoleh keuntungan karena tidak perlu membeli pupuk untuk halaman anda. Aktivitas pembuatan kompos dapat dilakukan sambil lalu saja, tidak harus dilakukan secara rutin. Aktivitas ini tidak memerlukan waktu yang lama setiap harinya. Bersamaan dengan membersihkan kebun atau menyapu daun-daun yang rontok, kemudian mengumpulkan sampah ini ke dalam wadah. Saat penuangan sampah ini sambil dilakukan pengadukan sampah secara ringan, untuk lebih mempercepat pengomposan. Namun jika tidak sempat, dengan menuang sampah itupun sudah cukup. Aktivitas ini jika dilakukan secara rutin mestinya tidak akan terasa berat.

Jadi mengapa tidak dicoba saja langkah ini.

 
Iqmal Tahir

8 Responses to “Pabrik Pupuk di Halaman Rumah”

  1. H.Asrul Hoeseinon 09 Jun 2010 at 10:00 pm

    Ass.Alaikum…sukses kelola sampah..salut…Eh Bung Iqmal …itu tu Kembangnya kentara subur ya, tentu akibat kompos….pakai apa tu mikrobanya…….salam Hijau….Sukses kelola sampah jadi emas……Insya Allah….Amin

  2. iqmalon 14 Jun 2010 at 5:18 pm

    Ya terimakasih pak, sudah berkunjung. Sekarang sih tanaman agak kurang terawat karena saya pas sedang tidak di rumah dalam jangka waktu lama sih…
    Di kompleks perumahan kami, sebenarnya sudah ada pemilahan sampah, hanya memang belum efektif betul. Terus yang mengelola sampah dapur juga tidak semuanya bersedia… Tapi lumayan lah…

  3. annaon 16 Jun 2010 at 10:31 am

    kalo di rmh saya pake kantung beras, daya tampung lumayan banyak-soalnya di rmh tiap hari punya sampah daun dr pohon di depan rmh, bpk saya kalo buang sampah non organik ckp seminggu sekali, tp itu juga tdk banyak menginspirasi tetangga utk melakukannya, kenapa ya? padahal lbh irit lho, gak bayar tukang sampah lagi. kurang pelatihan? tdk juga. sepertinya kurang perhatian, makanya musti sering diberi pengertian, soalnya kalo para ibu sudah sibuk pasti sdh gak kepikiran lagi mengolah sampah, para bapak juga pengennya yg praktis, tinggal anaknya yg bingung, disekolah diajarkan mengolah sampah, sampe di rmh ortunya gak peduli atau bahkan gak ngerti, kalo pengen eksperimen sampah, ortunya sdh teriak2 kotorlah, baulah dsb, bagaimana anak2 bisa peduli kalo yg seharusnya memberi teladan dan pengertian malah tdk mendukung, usul nih, sebelum terjadi pernikahan setiap pasangan wajib kursus soal sampah, keren kan kalo pemuda indonesia di masa depan berani bertanggungjawab-berani membuat, berani mengolah sampah

  4. iqmalon 16 Jun 2010 at 3:18 pm

    Memang kepedulian pada lingkungan relatif berat untuk diterapkan ke semua orang. Perlu kesadaran diri untuk terus berusahan dan menjadi contoh. Saya sendiri juga masih jauh dari itu kok mba, tapi terus berusaha lah…
    Harusnya memang seluruh anggota keluarga kompak dan bersedia menerapkannnya…
    Salut atas keinginan dan minat mba Anna juga…

  5. gutaon 11 Aug 2011 at 7:22 am

    good post! i will said many thanks for you. its very helpfull for me, i will adiing feed your blog now

  6. asep rikrik rochyadion 19 Jan 2012 at 8:18 pm

    ass……pak Iqmal sya tertarik dengan pmbuatan pupuk kompos dengan gnthong. Saya ingin bertanya” lubang gnthong fungsinya tuk apa? apakah gntong trsbut bisa d tnam dlam tanah atau d biarkan sja? trima kasih atas pnjelasannya…
    wassalam…..

  7. iqmalon 03 Feb 2012 at 11:59 am

    Lubang pada genthong biasanya digunakan menyalurkan udara dalam bahan. Kalau tidak ada lubang udara bisa dilakukan pengadukan atau membolak balik biomassa dalam genthong tetapi harus sering dilakukan….

  8. Laci Klaiberon 05 Feb 2012 at 9:39 am

    You are a very clever person!

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply