Jun 02 2010

Waspada Penipuan Joki Masuk Perguruan Tinggi

Published by iqmal at 2:29 pm under Etik sosial, Kampus

Saat menjelang penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi seperti sekarang ini, ternyata banyak sekali oknum-oknum yang mengaku dapat menjanjikan bantuan bagi para calon mahasiswa untuk dapat diterima di suatu perguruan tinggi dengan mudah dengan pembayaran nominal tertentu. Iming-iming seperti ini tentu saja dapat menarik minat bagi beberapa kalangan orang tua yang pesimis anaknya dapat lolos jika mengikuti seleksi secara normal. Mereka yang mungkin relatif memiliki sedikit kekayaan material mungkin dapat berharap dengan membayar pada para oknum itu maka anak mereka dapat masuk perguruan tinggi dengan mudah. Ternyata dari fakta yang ada, terkuak bahwa hal ini hanya penipuan dengan memanfaatkan situasi yang bisa dipetik keuntungan materialnya.

form umptn

Untuk diketahui bahwa  saat ini jumlah kursi masuk pendaftaran perguruan tinggi relatif terbatas, sedangkan jumlah calon mahasiswa yang memperebutkannya semakin bertambah. Konsekuensi seperti ini menjadikan tingkat persaingan semakin tinggi dan perlu ada pengaturan langkah-langkah tertentu untuk menghadapinya. Selain itu tentu saja bekal pengetahuan dan keterampilan dari calon mahasiswa harus disiapkan khususnya dalam menghadapi ujian seleksi masuk di suatu perguruan tinggi. Persiapan calon mahasiswa ini umumnya tentu saja sudah berlangsung cukup lama, mulai dari saat belajar rutin di bangku sekolah menengah itu sendiri. Bekal tambahan kadang dilakukan dengan mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah atau les privat secara personal. Selain itu persiapan mental dan teknis juga banyak dilakukan antara lain mengikuti kesempatan try-out ujian masuk, seminar sukses menembus perguruan tinggi, dan lain-lain.

Pada dasarnya siswa dengan melakukan banyak belajar secara rutin dengan selalu mengupdate materi pelajaran dasar dan berlatih menyelesaikan soal-soal ujian, maka yang bersangkutan akan memiliki bekal untuk menempuh ujian seleksi. Kemampuan memahami soal pertanyaan dan menyelesaikan masalah yang diujikan ini menjadi dasar untuk ukuran prestasi pengetahuan dari calon mahasiswa yang diseleksi. Saat ini materi yang diujikan adalah materi matematika dan pengetahuan umum,kemampuan bahasa Indonesia dan Inggris, serta materi untuk menguji kemampuan psikologi siswa. Untuk dapat lolos tentu saja ditetapkan batas passing grade nilai tertentu serta dikaitkan dengan kapasitas kursi yang tersedia untuk setiap program studi di masing-masing perguruan tinggi. Untuk dapat lolos tentu saja selain bekal kemampuan akademik tadi juga harus disertai dengan upaya untuk melihat tingkat kompetisi pada program studi yang diidam-idamkan, bisa saja yang bersangkutan lolos passing grade tetapi kalah karena jumlah pendaftar sangat banyak. Dalam hal ini banyak faktor yang tidak bisa diperhitungkan secara matematik biasa, kecuali yang bersangkutan memang memiliki prestasi akademik yang sangat tinggi. Seringkali faktor mujur dan keberuntungan juga memihak pada proses seleksi ini. Secara umum, banyak perguruan tinggi yang tidak memperhitungkan soal besarnya sumbangan pembangunan, tetapi sekarang ini ada juga perguruan tinggi yang mulai mencantumkan kemampuan sumbangan pembangunan pendidikan pada saat seleksi ini. Bisa saja kalau yang bersangkutan merasa dari golongan keluarga yang kurang mampu maka dapat mengisikan sumbungan nol rupiah. Faktor sumbangan ini meskipun dijadikan urutan terakhir dalam kriteria seleksi, tetapi juga jadi ikut menentukan proses. Untuk itu memang diperlukan kecermatan dalam mengerjakan seleksi selain kejujuran dalam hal kemampuan memberikan sumbangan ini.

Kembali pada faktor peluang ini, maka ada beberapa oknum yang memanfaatkan situasi tidak pasti yang dihadapi oleh para calon mahasiswa dan orang tuan yang bersangkutan. Para oknum ini banyak menawarkan diri untuk mengiming-imingi kepastian untuk dapat diterima di suatu perguruan tinggi. Mereka banyak bekerja secara kerjasama yang terorganisir rapi seperti mafia, dengan praktek yang diam-diam tetapi sangat aktif bergerak. Sebenarnya para oknum ini bekerja tidak secara resmi dan tanpa melibatkan oknum perguruan tinggi. Para oknum ini menawarkan diri menjual jasa membantu seolah-olah dapat melicinkan jalan lewat belakang asal yang bersangkutan mau membayar dalam jumlah yang relatif sangat tinggi. Mereka menawarkan diri secara sembunyi-sembunyi sambil melakukan kegiatan penjualan soal-soal ujian tahun lalu atau prediksi soal ujian, bahkan ada juga yang melalui oknum pengajar pada bimbingan belajar yang kurang berkualitas.

Praktek iming-iming membantu melicinkan lewat jalan belakang ini sebenarnya suatu penipuan terselubung, karena pada dasarnya banyak perguruan tinggi yang berkualitas tidak mau menerima mahasiswa dengan kualitas yang sekedarnya. Ujian seleksi ini justru digunakan untuk menyaring calon mahasiswa dengan kualitas pengetahuan yang sebaik-baiknya.  Oleh karena itu patut dicurigai adanya aksi tipuan seperti apa yang dilakukan oleh orang menawari  jalan mudah lewat belakang seperti ini.

 

peserta umptn

Dari hasil pengamatan ternyata mereka menerapkan modus ambil untung dari probabilitas siswa sendiri untuk diterima berdasarkan hasil seleksi murni. Mereka menawari calon peserta dengan jalan lewat belakang tetapi tetap mengharuskan siswa mengikuti seluruh ketentuan sebaik-baiknya. Setelah orang tua setuju untuk dibantu maka tentu saja untuk dapat mengikuti jalur belakang ini, orang tua hendaknya membayar uang pelicin dalam jumlah yang cukup besar sampai di atas seratus juta. Untuk diketahui bahwa saat ini ada program seleksi normal melalui PBS atau Penelusuran Bakat Stokastik yang meminta besaran sumbangan juga sampai seratus juta. Dengan demikian maka uang pelicin yang diminta oknum lewat jalur belakang saja bisa 150 atau bahkan 200 juta.  Setelah disetujui, maka orang tua diminta membayar uang muka sebesar 20 sampai 30 juta dulu untuk persiapan dan katanya untuk membayar kepada orang dalam. Catatan yang menarik adalah selanjutnya mahasiswa dipersiapkan secara khusus oleh oknum ini, misal harus dikarantina di suatu hotel menjelang tes, bahkan jika waktu masih mencukupi kemudian yang bersangkutan diberi bekal materi secara khusus dan privat, termasuk strategi praktis menyelesaikan soal atau kiat menempuh ujian, rekomendasi pengisian uang sumbangan yang maksimal. Saat tes, mahasiswa akan diantar khusus dan ditunggu oleh yang bersangkutan sebagai suatu layanan istimewa. Setelah itu, mahasiswa akan menunggu hasil pengumuman dengan sekali-kali dikontak oleh oknum joki ini untuk sekedar komunikasi dan informasi bohong soal status hasil seleksi ini.

Sebenarnya mafia ini kalau dicermati tidak punyak relasi, mereka hanya hanya mengandalkan peluang lolos dari hasil upaya calon mahasiswa itu sendiri.  Jika lolos, maka akan diakui sebagai hasil jerih payah membantu lewat jalur belakang ini atas bantuan oknum yang bersangkutan. Kalau sudah seperti ini tentu saja orang tua mahasiswa harus membayar penuh sesuai dengan perjanjian. Uang ini tentu saja tidak diberikan ke orang dalam di perguruan tinggi yang dimaksud dan akan diambil yang besangkutan semua, padahal tidak ada usaha nyata yang menghubungkan antara oknum ini ke universitas.  Jika tidak lolos maka dicari alasan bahwa untuk jurusan yang dipilih ternyata sangat berat, ternyata nilai hasil ujian yang bersangkutan sangat minim untuk dibantu walaupun petugas sudah mengkatrol naik. Jadi dengan berat hati yang bersangkutan tetap tidak lolos. Lantas uang sisa yang dijanjikan tentu saja tidak perlu dilunasi, tinggal masalah uang muka yang sudah disetorkan tadi. Oknum ini secara meyakinkan akan mengembalikan uang muka tetapi dipotong dengan uang operasional dan jasa lain-lain. Uang ini lah yang menjadi keuntungan minimal kalau saja mahasiswa tidak lolos seleksi diterima sebagai mahasiswa di perguruan tinggi. Akan tetapi keuntungan dari uang operasional ini juga cukup besar bisa sampai 7-12 juta per mahasiswa. Kalau setiap musim seleksi oknum ini dapat mangsa sampai 4-6 orang kan keuntungannya juga cukup besar.

Kesimpulannya adalah para oknum mafia joki ujian ini sebenarnya hanya mengandalkan sedikit keberuntungan dari upaya calon mahasiswa itu sendiri. Kalau dia lolos maka akan mendapat rejeki nomplok dengan uang yang cukup besar. Namun kalau tidak, dia masih dapat keuntungan dari uang jasa atau uang operasional yang dipotong dari uang muka itu.

UGM tidak melakukan pungutan ujian

Oleh karena itu kepada para orang tua yang kebetulan punya anak akan masuk seleksi perguruan tinggi, maka hendaklah pikir-pikir dahulu untuk menggunakan jasa bohong-bohongan seperti ini. Jangan mudah tergiur iming-iming yang menyesatkan ini. Saya kira seleksi mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi saat ini telah cukup fair dan mengedepankan keadilan berdasarkan hasil tes masuk.  Jika ada yang berniat menyumbang, dapat saja lewat jalur seleksi yang tetap resmi melalui program PBS atau jalur lain.

 

 

Iqmal Tahir

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply