Jun 09 2010

Alasan Dibalik Larangan Meniup Makanan yang Masih Panas

Published by iqmal at 8:21 am under Etik sosial

Bagi umat muslim, perintah yang tertuang dalam Al-Quran dan Hadist tentu saja harus diikuti tanpa perlu menyanggah ketentuan tersebut. Mengingat manusia diberi karunia berupa akal maka sering orang menggunakannya untuk mengkaji hikmah dan rahasia di balik yang tertuang di dalam ayat-ayat Allah ini. Untuk bagian yang termasuk menyangkut ketauhidan dan alam gaib lainnya, manusia dilarang untuk memikirkan hal ini. Namun untuk hal lain bahkan menyangkut rahasia alam, manusia memang diwajibkan untuk menggali dan mengembangkan pengetahuan akan hal ini. Namun terkadang orang sering salah menafsirkan sesuatu ayat dengan fenomena alam yang berlaku, bahkan kadang seolah-olah seperti disambungkan atau dikait-kaitkan saja. Saya pernah membaca beberapa skripsi ilmu kimia dari mahasiswa yang menempuh kuliah di perguruan tinggi negeri yang berbasis ke-Islaman (peralihan dari institut menjadi universitas), dimana pada setiap skripsi harus didahului dengan pengantar yang mengutip ayat Al-Quran atau kutipan hadits. Saya pernah berdiskusi dan menyampaikan sanggahan bahwa hal ini mestinya tidak harus dilakukan karena semua ketentuan yang terjadi di alam, semua juga merupakan ayat-ayat Allah yang tidak tertulis. Sebagai contoh untuk melengkapi adalah bukti dan catatan dari banyak ilmuwan Islam jaman dulu yang juga tidak mengkaitkan dengan agama.

Ada satu ilmuwan (??) yang berasal dari Turki, ada yang menyebutkan sebagai wartawan, yang bernama Harun Yahya. Tokoh ini banyak menghasilkan karya yang menarik yang mengkaji banyak fenomena dari sisi Islam. Ada yang memang benar-benar sesuai dan memang rasional sesuai nalar. Hal ini juga memancing karya lain oleh banyak orang untuk mengkaji hal serupa. Saya sendiri termasuk yang senang membaca karya Harun Yahya, termasuk memiliki koleksi VCD dan ebook tulisan-tulisan beliau. Namun tentu saja sebagai seorang yang berkecimpung dalam bidang akademik, hal ini perlu diimbangi dengan rasa skeptis untuk mempelajari lebih lanjut tanpa perlu harus menyanggah. Memang ada beberapa kasus yang ditulis masih mengandung tanda tanya, termasuk masalah soal evolusi.

Pembahasan tentang rahasia di balik ayat-ayat Allah kalau di Al-Quran sebenarnya selalu ada asbabun nuzul-nya. Kalau yang tertuang dalam Hadits itu terjadi melalui ucapan dan tindakan Rasulullah. Boleh saja kita mengupas hikmah dan rahasia di balik hal ini, namun tentu saja terbatas dengan pengetahuan dan kemampuan akal kita sebagai insan di muka bumi ini. Kalau memang harus dikaitkan dengan pengetahuan yang saat itu sudah diketahui, mestinya juga harus memenuhi nalar dan logika yang berlaku.

Saya pernah menjumpati suatu artikel di Kompasiana yang juga mengupas hal seperti ini. Artikel tersebut terkait dengan Hadist Nabi yang menyebutkan bahwa kita dilarang untuk meniup makanan yang masih panas. Bunyi hadits tersebut adalah sebagaimana dalam Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Alasan yang dikemukakan adalah bahwa secara kimia napas manusia mengeluarkan CO2 dan gas ini dapat terlarut ke dalam air di makanan menghasilkan asam karbonat (Catatan di teks H2CO3 ditulis sebagai asam cuka). Kutipannya adalah sebagai berikut

“Secara teori kimia bahwa: apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan CO2 yaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dengan air H20, akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita ketika minum seteguk demi seteguk, jangan langsung satu gelas sambil bernapas di dalam gelas , hal ini juga dilarang, ternyata saya baru tahu sekarang hikmahnya, bahwa ketika kita minum langsung banyak, maka ada kemungkinan kita akan bernapas di dalam gelas, yang akan menyebabkan reaksi kimia seperti di atas. “

Kalau menurut saya alasan ini terlalu mengada-ada. Saya sudah membantah hal ini di kolom diskusi pada artikel tersebut. Namun tentu saja tidak ada hasil akhir yang menyimpulkan mana yang benar dan mana yang salah karena kolom kompasiana adalah bukan forum yang digunakan untuk mencari kebenaran.

Meniup makanan panas (sumber : kompas.com)

CO2 masuk ke air adalah susah, karena dari fasa gas untuk terlarut ke fasa cair realtif tidak mudah. Kemungkinan penulis artikel tersebut terinspirasi dari peristiwa terjadinya hujan asam dimana salah satu gas pembentuk keasaman air hujan adalah karena pelepasan dan pelarutan gas CO2 di awan. Kalau dianalogikan dengan peristiwa terjadinya hujan asam, hal ini berupa proses yang terjadi pada fasa gas baik untuk CO2 maupun fasa air yang terjadi di angkasa. Proses pada fasa gas ini sangat mungkin terjadi dengan mudah, termasuk untuk gas lain seperti CO, NOx dan SOx. Gas-gas ini di awan akan langsung terlarut dalam uap air di awan dan membentuk asam H2CO3 (asam karbonat), HNO2 (asam nitrit) dan H2SO3 (asam sulfit).

Kalau CO2 bereaksi dengan air maka akan terjadi H2CO3 dan asam ini adalah asam karbonat bukan asam asetat seperti yang dikemukakan oleh penulis artikel. Asam karbonat meskipun bersifat asam, tetapi jenis ini juga banyak digunakan pada minuman berkarbonat seperti yang kita jumpai di berbagai jenis soft drink. Risiko bahaya yang diakibatkan oleh asam ini relatif jauh dari apa yang dituliskan pada artikel itu. Efek asam yang dihasilkan dapat terjadi jika berlangsung pada konsentrasi asam yang tinggi sehingga menghasilkan kondisi pH larutan yang rendah. Mengingat asam karbonat adalah termasuk asam lemah maka pH larutan juga tidak akan terjadi sangat rendah.  Pada konsentrasi rendah, efek asam dapat terjadi jika terkena kontak terus menerus. Hal ini dapat terjadi seperti pada kasus orang yang sering mengkonsumsi minuman soft drink, maka akan ada efek pengeroposan gigi atau iritasi lambung.

Secara fisik, proses pelarutan gas CO2 hasil pernafasan manusia ke permukaan air akan sangat kecil. Selain konsentrasi gas CO2 yang dihasilkan juga kecil, kontak permukaan antara molekul gas CO2 pada fasa gas juga tidak akan mudah menembus permukaan cairan, walaupun temperatur fasa cair atau fasa padat pada makanan ini relatif tinggi (makanan masih panas).

Sebenarnya alasan yang lebh logis adalah pada saat manusia mengeluarkan udara hasil pernafasan serta mengeluarkan udara saat meniup, maka tidak hanya mengeluarkan gas hasil pernafasan saja. Mulut juga akan mengeluarkan uap air dan berbagai partikel yang ada dari dalam rongga mulut. Paling mudah dideteksi adalah nafas atau bau mulut juga sering tercium. Bau mulut ini mengindikasikan ada partikel yang juga dikeluarkan dari mulut. Partikel ini dapat berasal dari sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi, selain itu dapat juga berupa mikroorganisme yang hidup di rongga mulut. Mikroorganisme ini kadang bersifat merugikan dan bersifat sebagai pathogen. Hal inilah yang harus dihindari supaya jangan terbawa sehingga karena berupa partikel padatan akan dapat menempel dan mengkontaminasi pada makanan yang ditiup.

Alasan terakhir ini jauh lebih logis daripada alasan soal CO2. Selain tentu saja sebenarnya adalah alasan etik sosial, dimana meniup makanan memang di beberapa daerah, memang tidak dianjurkan. Jadi kalau anda sedang makan makanan atau minuman yang panas, tentu saja bersabarlah dulu sebentar sehingga menjadi berkurang temperaturnya dan mulut dapat menerima masuk. Coba kalau masih panas, tetap dimasukkan maka dijamin bibir dan lidah akan mak nyosssss……

Terakhir sebagai penutup, tentu saja kebenaran rahasia alam sejatinya adalah milik Allah swt. Wallahu a’lam.

 

Intermezzo :

Kalau makanan atau minuman panas biar cepat dingin serta jelas tidak melanggar aturan, mungkin bisa dilakukan dengan cara di bawah ini. Asli menggunakan teknologi Made in Japan. Enjoy saja lagi…

Kipas angin untuk makanan.

3 Responses to “Alasan Dibalik Larangan Meniup Makanan yang Masih Panas”

  1. Yong Jecmenekon 05 Feb 2012 at 3:19 am

    I think this internet site holds some real superb info for everyone. “I have learned to use the word ‘impossible’ with the greatest caution.” by Wernher von Braun.

  2. cecep gondrongon 01 Apr 2013 at 12:46 pm

    Yang jelas kalau memaksakan diri makan makanan yang masih panas biasanya bikin perut kembung hehehehe…

  3. […] seorang dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada, sehingga tentu saja kredibel. Berikut ini link-nya: http://iqmal.staff.ugm.ac.id/?p=2339 atau bisa juga di sini: […]

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply