Jun 18 2010

Proses Pemusnahan Barang Bukti Bahan Terlarang

Published by iqmal at 10:08 am under Lingkungan Hidup

Dalam setiap kasus pelanggaran hukum, setelah proses selesai diputuskan maka pengadil juga ikut memerintahkan untuk menindaklanjuti status dari barang bukti. Ada beberapa keputusan yakni barang bukti dikembalikan kepada pemiliknya, barang bukti disita untuk negara atau barang bukti harus dimusnahkan. Untuk kasus-kasus yang melibatkan bahan terlarang seperti minuman keras, obat-obatan psikotropika, ganja atau media terkait pornografi, maka keputusan perlakuan barang bukti ini biasanya adalah harus dimusnahkan. Proses pemusnahan biasanya akan segera dilakukan segera setelah keputusan hukum berlaku sejak tanggal diputuskan. Pelaksana proses pemusnahan ini tentu saja oleh aparat keadilan atau pihak lain yang ditunjuk dengan suatu berita acara yang jelas.

Saya pernah menulis artikel tentang pemusnahan barang bukti sitaan berupa minuman keras beralkohol dan media terkait pornografi. Sebenarnya tulisan tersebut lebih merupakan pemusnahan barang sitaan dan bukan bukti kasus hukum peradilan, namun relatif sama. Untuk kasus pemusnahan barang bukti yang lain yakni minuman beralkhohol memang harus dirusak wadah atau botolnya, sedangkan isinya harus dibuang sehingga tidak memungkinkan untuk diminum kembali oleh siapapun. Untuk media terkait pornografi seperti majalah, foto cetakan, poster atau cd/dvd beserta sampulnya, harus dibakar habis.

Prinsip pemusnahan barang bukti adalah jelas bahwa barang bukti harus dihilangkan sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali oleh siapapun. Kalau untuk kasus barang bukti dengan ukuran kuantitas kecil sepertinya tidak masalah, melalui proses pembakaran biasa di suatu tempat, maka hal ini dapat dilakukan. Akan tetapi bagaimana halnya jika umlah barang bukti sangat besar ?

 Daun ganja kering sitaan

Seperti dikutip dari Detik.com hari Rabu, 16 Juni 2010, yang memberitakan tentang pemusnahan ganja kering seberat 1,1 ton. Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur di  Kupang, telah memusnahkan 1,1 ton ganja kering, bersamaan dengan lebih dari 8.000 liter minuman keras tanpa merek, dan lebih dari 2.000 liter minuman keras produksi lokal. Pemusnahan yang dilakukan itu sebagai bagian dari peringatan Hari Antinarkoba Nasional, sekaligus Hari Bhayangkara Ke-64. Seperti biasa, upacara dilakukan oleh pejabat kepolisian dan sejumlah pejabat daerah untuk memberi informasi ke masyarakat luas akan peran aktif kepolisian serta memberi peringatan bagi para pengedar dan pengguna barang haram tersebut. Barang-barang terlarang yang dimusnahkan itu merupakan hasil sitaan dalam sejumlah operasi yang digelar Polda NTT di provinsi kepulauan itu.

Kalau pelaksanaan pemusnahan barang bukti ini tetap seperti yang disebutkan dengan pembakaran biasa, maka disini juga akan ada dampak negatif yang dihasilkan dari proses ini. Untuk pemusnahan minuman beralkohol sudah saya tulis di artikel ini. Pada kasus di atas maka terdapat ganja dalam jumlah yang cukup besar. Pemusnahan dengan cara pembakaran biasa di lapangan terbuka, maka akan menghasilkan asap yang sangat besar. Asap ini tidak hanya sekedar asap biasa yang membawa gas karbondioksida dan uap air yang merupakan hasil pembakaran secara sempurna dari bahan organik. Akan tetapi asap tersebut juga membawa banyak partikel dan senyawa organik-organik berbahaya yang terkandung di dalam daun ganja. Kalau dibayangkan daun tembakau dalam rokok yang dibakar saja akan menghasilkan puluhan atau bahkan ratusan jenis senyawa yang berbahaya bagi kesehatan orang yang menghirupnya. Sekarang untuk proses pembakaran daun ganja, mestinya juga akan mengeluarkan senyawa-senyawa yang serupa. Bahkan senyawa tertentu yang menyebabkan efek halusinasi dan memabukkan juga mestinya akan dikeluarkan seperti halnya orang merokok dengan daun ganja. Bisa jadi akan ada proses teler massal oleh orang yang menghirup asap ganja ini secara bersamaan.

Berdasarkan pemikiran di atas maka mestinya proses pemusnahan daun ganja dalam jumlah besar harus dilakukan secara khusus. Proses pembakaran dapat dilakukan dengan menggunakan alat incinerator yakni tungku pemanas tertutup seperti yang banyak digunakan pada proses pembakaran limbah padat dari rumah sakit (limbah medis). Pemanasan pada incinerator akan menghasilkan panas yang sangat tinggi sehingga dapat membakar bahan dengan sempurna. Proses ini hanya akan meninggalkan residu abu dalam jumlah yang minimal. Asap yang dihasilkan dikeluarkan melalui cerobong khusus dengan penjebak partikel-partikel udara sehingga tidak mudah lepas keluar. Dengan jalan ini maka dampak negatif proses pemusnahan ganja kering ini akan dihindarkan khususnya bagi para pelaksana atau orang yang berada di sekitar lokasi.

Untuk pemusnahan pohon ganja sitaan yang berasal dari ladang penanaman yang berlokasi di hutan-hutan, maka teknik pemusnahan dapat dilakukan langsung di lokasi. Hal ini juga karena faktor kesulitan pengangkutan barang bukti ke kota. Mengingat lokasi adalah kawasan terbuka dan jauh dari pemukiman maka pembakaran tanaman di lahan itu mungkin dapat langsung dilakukan. Hal yang perlu diingat tentu saja adalah bagi petugas pelaksana pemusnahan itu agar melindungi diri seoptimal mungkin. Penggunaan masker untuk melindungi saluran pernafasan mungkin adalah salah satu cara yang dapat dilakukan.

Pembakaran barang bukti ganja

Selain dampak terhadap orang, akan dimungkinkan juga dampak bagi lingkungan sekitar mungkin ke serangga atau burung-burung yang berada di wilayah itu. Tahun 2009 lalu, saya pernah membaca ada satu fenomena teler masal oleh burung kakaktua di suatu wilayah di Australia utara. Burung-burung ini banyak yang tidak bisa terbang secara normal, kalau bertengger kemudian akan sempoyongan dan sering jatuh secara seketika. Ternyata kasus ini terjadi karena adanya kontaminasi bahan psikotropika yang berada di udara akibat pembakaran bahan tersebut.

Dari uraian ini maka diharapkan tentunya pihak aparat sekali lagi perlu merancang teknik pemusnahan yang baik sesuai dengan tujuannya. Pada sisi lain efek untuk memberi peringatan pada masyarakat juga tetap terlaksana melalui upacara terbuka. Tetapi juga terkait dengan aspek K3, proses pemusnahan bahan bukti barang terlarang ini juga patus diwaspadai.

Demikian sekedar tulisan ringan yang mencoba melakukan analisis K3 pada proses pemusnahan ganja dalam jumlah besar. Saya sendiri belum pernah melihat daun ganja secara langsung, hanya pernah melihat gambarnya saja berdasarkan informasi di buku teks dan di internet. Akan tetapi mestinya tulisan ini jadi bukan berarti tidak berdasar dan pada akhirnya diharapkan dapat menjadi referensi jika akan dilakukan proses serupa di lain waktu. 

 

Iqmal Tahir

One Response to “Proses Pemusnahan Barang Bukti Bahan Terlarang”

  1. Billy Kierzewskion 05 Feb 2012 at 6:44 am

    Loving the info on this internet site , you have done outstanding job on the blog posts.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply