Jul 31 2010

Ancaman Merkuri dari Acara Kremasi Mayat

Published by iqmal at 8:37 am under Health & Safety

Artikel ini ditulis setelah teringat saat nonton serial Ghost Whisperes yang dibintangi oleh Jennifer Love Hewitt. Kebetulan episode yang dimainkan adalah tentang arwah hantu yang penasaran yang saat matinya seharusnya dibakar di krematorium, tetapi dimanipulasi dengan dibuang ke dasar danau. Dari gambaran yang tersaji memberikan ide tulisan ini, bukan tentang sisi sensual pemeran utamanya lho, tetapi tentang ada risiko bahaya yang mungkin terjadi di balik proses kremasi jenasah di krematorium. Ide asal masalah ini sendiri pernah didiskusikan oleh Prof Muefit Bahadir dari TU Braunsweigh Jerman saat berkunjung ke Jurusan Kimia FMIPA UGM Yogyakarta.

Pembakaran jenasah oleh keluarga almarhum yang ditinggalkan sudah umum dilakukan baik karena alasan agama atau kepercayaan tertentu. Kalau di Bali, umat Hindu yang berasal dari keluarga berada sering mengadakan upacara Ngaben untuk pembakaran jenasah. Upacara ini diselenggarakan di lapangan terbuka dengan prosesi pembakaran menggunakan bahan bakar tumpukan kayu, dan selanjutnya abu yang tersisa dapat dikubur, dilarung atau disimpan secara khusus. Untuk umat Kong Hu Cu atau orang Cina, juga melaksanakan pembakaran jenasah, tetapi dengan jalan dilaksanakan di krematorium. Jenasah akan dimasukkan ke dalam peti dan kemudian diletakkan dalam tanur pembakar yang selanjutnya akan membakar tubuh sampai habis dan menyisakan abu. Abu sisa pembakaran mayat ini akan disimpan dan dijaga oleh keluarga baik untuk disimpan maupun untuk dikuburkan pada suatu makam.

www.balispirit.com)

Pembakaran jenasah dalam tanur dilakukan dengan nyala api menggunakan bahan bakar gas sehingga dapat memberikan panas yang tinggi dan cepat membakar tubuh. Seperti halnya benda yang terbakar maka proses ini akan meliputi pembakaran anggota tubuh sampai gosong mengering dan berlanjut sampai terbakar menyisakan abu yang berasal dari sisa pembakaran tulang. Pada proses pembakaran ini semua asesoris yang diikutkan seperti baju atau kain pembungkus juga akan ikut terbakar semua.

Untuk jenasah orang tertentu seringkali membawa asesoris yang terbawa di dalam tubuh jenasah yang bersangkutan. Sebagai contoh adalah orang pernah kecelakaan dan menderita patah tulang, bisa jadi di dalam tubuh mayat ini terdapat logam pin yang digunakan untuk menyambung tulang yang patah. Pin logam ini pada saat terbakar, ikut terpanaskan tetapi mungkin tidak akan mengganggu. Untuk kasus tertentu ada jenasah dari orang yang semasa hidupnya pernah menambal gigi dengan menggunakan amalgam. Gigi tambalan ini tentu saja juga ikut terbakar dan hal inilah yang dapat menimbulkan bahaya tersembunyi.

www.topnews.in)

Amalgam merupakan campuran bahan tambal gigi yang sering digunakan untuk menambal bagian gigi yang berlubang. Bahan ini sudah cukup populer digunakan oleh dokter gigi atau tukang gigi. Walaupun saat ini sudah mulai berkurang penggunaannya karena sudah ada bahan lain yang menggunakan resin akrilat. Amalgam berupa bahan campuran komposit yang di dalamnya mengandung logam raksa. Logam ini dalam keadaan murni sebenarnya relatif berbahaya dan memiliki efek toksikologis yang akut, tetapi kalau digunakan sebagai amalgam relatif tidak berbahaya. Apalagi pada aplikasi gigi ini amalgam akan berada di bagian dalam gigi yang berlubang. Tetapi jika kemudian amalgam ini berada pada gigi jenasah yang kemudian dibakar di krematorium, maka raksa dari amalgam ini juga akan terbakar dan menghasilkan uap raksa ke udara. Uap raksa ini akan berbahaya sekali apalagi jika sampai terhirup ke saluran pernafasan yang akan menimbulkan efek karsinogenik dan mutagenik.

Dalam konstruksi tungku pembakar jenasah, tentu saja terdapat cerobong guna mengeluarkan asap hasil pembakaran. Uap raksa dari pembakaran gigi beramalgam ini tentu saja akan keluar lewat cerobong ini. Untuk menghindari masuknya uap raksi ke udara terbuka, maka bisa saja uap dialirkan lewat penjebak partikel padatan halus dari proses pembakaran ini. Penjebak ini bisa berupa filter ataupun berupa percikan air di cerobong.

www.pictokon.net)

Sebenarnya ada langkah preventif lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi gigi beramalgam ini. Caranya adalah dengan mencabut gigi yang memiliki tambalan beramalgam ini. Kalau gigi palsu lengkap atau gigi emas, maka dari luar akan langsung terlihat dan dapat langsung dicabut. Tetapi untuk gigi tambalan biasa, hal ini tidak mudah untuk dilihat dan diketahui dengan cepat. Mungkin kalau ada catatan khusus berupa rekam medis dari dokter gigi bisa jadi bahan rujukan, namun hal ini belum jadi kebiasaan bagi banyak kalangan. Lagi pula bisa jadi keluarga jenasah akan keberatan bila mayat harus diperiksa giginya secara teliti dan dicabuti bagian gigi yang mengandung tambalan amalgam.

Dengan langkah kewaspadaan ini maka diharapkan dapat menekan laju penambahan uap raksa di lingkungan. Efeknya tentu saja akan diperoleh kesehatan lingkungan dan kesehatan personal dari para pekerja krematorium atau pengunjung yang menunggu proses pembakaran jenasah ini.

Untuk ke depan saya kira kasus masalah seperti ini akan jauh berkurang. Hal ini karena kecenderungan orang sekarang lebih suka menambal giginya dengan resin akrilat (polimer) daripada menggunakan amalgam.

Iqmal Tahir

3 Responses to “Ancaman Merkuri dari Acara Kremasi Mayat”

  1. Robertaon 16 Feb 2012 at 7:10 am

    Your article was excellent and eurdtie.

  2. ARmion 21 Mar 2012 at 2:27 pm

    ih terlalu mengerikan gan :O
    t’Rima kasih ya gan :)
    ini membantu saya yang maunambval gigi :D

  3. tera goldon 03 Aug 2012 at 3:25 pm

    Very interesting info!Perfect just what I was looking for!

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply