Feb 24 2012

Salah Pengambilan Kesimpulan

Published by iqmal at 8:05 pm under Kampus

Seringkali menjumpai satu tulisan mahasiswa yang tidak mengikuti aturan logika antara permasalahan penelitian, tujuan, hipotesis dan kesimpulan yang diambil. Pada suatu skripsi sering dijumpai kasus seperti itu berupa ketidaksinkronan antara keempat bagian penting dalam suatu laporan hasil penelitian itu. Bagi pembaca yang sering meneliti dan membaca karya ilmiah maka hal ini dapat diketahui dengan cepat. Oleh karena itu kita semua juga patut memperhatikan hal ini secara cermat.

Soal seperti ini tidak dapat diajarkan hanya dengan kuliah tatap muka saja. Mahasiswa perlu menerapkan langsung dengan mencoba menyusun proposal yang memuat permasalahan, tujuan penelitian dan hipotesis. Selanjutnya tentu melakukan eksperimen dan analisis data yang dihasilkan untuk kemudian diambil kesimpulan yang diperoleh. Semua ini disusun dalam bentuk laporan karya ilmiah yang dimulai dari proposal penelitian dan terakhir menjadi skripsi.

Untuk menghindari kesalahan pengambilan kesimpulan mungkin dapat mengambil inspirasi dari kedua kasus berikut.

 1. Kasus pertama

Di sebuah sekolah seorang guru ingin mendemonstrasikan kepada murid-muridnya pengaruh buruk dari alkohol pada manusia.

Ia mengambil dua buah gelas. Satu gelas diisinya dengan air putih dan gelas lainnya diisi dengan alkohol. Kemudian, masing-masing gelas dimasukkan seekor cacing. Dalam gelas berisi air, cacing tetap hidup. Akan tetapi untuk cacing yang dimasukkan ke dalam gelas berisi alkohol, langsung mengeliat dan kemudian tidak lama segera mati tidak bergerak.

Mati dalam alkohol.

” Kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari presentasi ini ? ” tanya Guru,
” Kalau kita minum alkohol, kita tidak akan cacingan…” jawab salah seorang muridnya.
ps. Kasus lebih lengkap dapat dibaca di sini.

2. Kasus kedua

Seorang peneliti mempunyai seekor katak. Dia memutuskan untuk meneliti katak tersebut karena tertarik pada kemampuan lompatan binatang amfibi ini..

Dia berkata kepada si katak, “lompat”, katak tersebut melompat 8 feet. Peneliti itu menulis pada jurnalnya bahwa katak dengan 4 kaki melompat sejauh 8 feet.

Lalu dia memotong 1 kaki dari katak, dan berkata, “lompat,” katak tersebut melompat 6 feet. Dan ia membuat catatan lagi pada buku jurnalnya.

Dia potong lagi 1 kaki si katak dan berseru,”lompat”, katak tersebut
melompat sejauh 4 feet, peneliti itu kembali membuat catatan pada jurnalnya.

Dia potong kaki yg ketiga, dan kembali berseru, “lompat”, katak itu hanya melompat 2 feet. Peneliti itu kembali menulis pada jurnalnya, bahwa katak dengan 1 kaki hanya bisa melompat sejauh 2 feet.

Katak siap melompat.

Terakhir, peneliti tersebut memotong kaki ke empat dari katak, dan berseru, “lompat”, tapi katak tersebut sama sekali tidak bergerak. Lalu si peneliti membuka buku catatannya, dan menulis : Setelah keempat kakinya terpotong, binatang katak menjadi tuli. Belajar dari kedua kasus itu, tentunya pembaca dapat menangkap apa yang saya maksudkan bahwa menarik kesimpulan itu penting dan tidak boleh terlepas dari konteks utama yang diteliti. Memang cukup penting untuk sebelum melakukan penelitian sudah harus tahu permasalahan, tujuan penelitian dan hipotesis yang akan diteliti. Untuk itu peran proposal penelitian yang di dalamnya juga memuat ketiga bagian itu menjadi penting untuk dibuat.

Setelah penelitian dilakukan dan data diperoleh, selanjutnya dilakukan analisis data barulah dibahas dan disimpulkan sesuai hipotesis yang sudah disusun tadi. Jadi bukan seperti anak siswa dalam kelas biologi itu atau sang peneliti kodok itu.

Omong-omong kalau ditanya soal kesimpulan dari kedua kasus itu yang benar seperti apa ya ? Yang jelas jangan sampai terus kesimpulan berubah menjadi seperti di bawah ini.

  • Kesimpulan kasus I : Alkohol adalah obat cacing yang mujarab.
  • Kesimpulan kasus II : Kodok tanpa empat kaki itu tidak layak dipilih jadi atlet lompat jauh.

Kalau kesimpulan tetap seperti ini namanya sama saja bohong. Capek deh…..

Ini baru cara belajar siswa aktif.

One Response to “Salah Pengambilan Kesimpulan”

  1. ARmion 05 Mar 2012 at 9:42 am

    hahaha :D
    kalau cerita kasus pertama tentang murid yang tidak mengrti sih, masih bisa dimaklum.,
    tapi kalau cerita kasus kedua sangat konyol sekali, haha orang konyol kok bisa meneliti :P :D

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply